Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Nasib Guru yang Memprihatinkan

Tiga hari yang lalu bangsa kita memperingati “Hari Pendidikan Nasional”. Saya melihat di beberapa berita televisi maupun berita online, peringatan hardiknas diisi dengan beberapa demo yang terjadi di beberapa kota. Isi demo bermacam-macam, diantaranya mengenai Ujian Nasional, menuntut pendidikan murah dan lain sebagainya. Sepertinya masyarakat tidak pernah puas dengan keadaan pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan, biaya, fasilitas sampai tenaga pengajar sering dijadikan kambing hitam dalam kegagalan mencetak generasi muda yang berkualitas di negeri ini.

Salah satu elemen penting dalam dunia pendidikan adalah guru. Tanpa guru, kegiatan belajar mengajar tidak dapat terlaksana. Lalu bagaimana dengan nasib para guru saat ini? Adakah yang masih peduli dengan mereka?

Coba saja tanyakan kepada para pelajar saat ini, siapakah di antara mereka yang serius bercita-cita menjadi guru? Pasti sedikit sekali jumlahnya. Mayoritas pelajar memiliki cita-cita menjadi dokter, pilot, sekretaris, pengacara dan macam-macam profesi lainnya yang mereka anggap sukses. Guru dalam benak mereka adalah orang-orang sederhana yang menjalani profesi untuk mencari sesuap nasi demi menghidupi keluarganya. Sedemikian buruknya kah nasib guru Indonesia?

Tadi malam ketika saya sedang menyaksikan acara Idola Cilik di RCTI, saya terenyuh mendengar para peserta menyanyikan lagu “Kepada Guru”. Liriknya seperti ini:

“Kita jadi bisa, menulis dan membaca, karena siapa? Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu, karena siapa? Kita bisa pintar dibimbing pak Guru, kita bisa pandai dibimbing bu Guru…, Guru bak pelita, penerang dalam gulita, jasamu tiada tara…”

Continue reading

May 5, 2008 Posted by | Opini | 7 Comments

CHEONGSAM

Cheongsam diadaptasi dari kata changshan yang berarti baju panjang. Menggambarkan baju satu potong pas di badan yang dikenakan oleh perempuan China. Pada beberapa daerah lain juga dikenal dengan sebutan Qipao. Jika melihat perkembangannya, Cheongsam merupakan simbol dari kebangkitan wanita modern di negeri China saat itu. Cheongsam mulai dikenakan pada awal abad 20 oleh para wanita Shanghai. Kebanyakan pemakainya adalah guru dan pelajar. Cheongsam pada masa itu merupakan busana yang nyaman, praktis, dan ekonomis, sebagai hasil modifikasi dari busana awal mereka yang berupa jubah lebar dan berlapis-lapis.

Dari tampilannya potongan Cheongsam memang sederhana. Tidak memiliki banyak aksesoris, seperti sabuk, atau selendang. Jadi pada masa itu, mereka yang memiliki Cheongsam, dengan warna dan bordir yang beraneka ragam dianggap sebagai wanita berada. Semakin banyak bordiran pada Cheongsam, semakin tinggi kelas ekonomi sang pemakai. Pada tahun-tahun tersebut, Cheongsam menjadi busana wajib bagi wanita yang ingin digolongkan sebagai kalangan wanita menengah ke atas di Shanghai kala itu.

Kini Cheongsam tidak hanya familiar dikalangan etnis Tionghoa saja. Beberapa model potongan cheongsam perlahan diadopsi dan dipadukan dengan busana gaya apa saja. Hasil adoposi Cheongsam ini akhirnya menghasilkan berbagai desain busana yang elegan dan menarik.

Continue reading

May 5, 2008 Posted by | Budaya Tionghoa | Leave a comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.