Nasib Guru yang Memprihatinkan
Tiga hari yang lalu bangsa kita memperingati “Hari Pendidikan Nasional”. Saya melihat di beberapa berita televisi maupun berita online, peringatan hardiknas diisi dengan beberapa demo yang terjadi di beberapa kota. Isi demo bermacam-macam, diantaranya mengenai Ujian Nasional, menuntut pendidikan murah dan lain sebagainya. Sepertinya masyarakat tidak pernah puas dengan keadaan pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan, biaya, fasilitas sampai tenaga pengajar sering dijadikan kambing hitam dalam kegagalan mencetak generasi muda yang berkualitas di negeri ini.
Salah satu elemen penting dalam dunia pendidikan adalah guru. Tanpa guru, kegiatan belajar mengajar tidak dapat terlaksana. Lalu bagaimana dengan nasib para guru saat ini? Adakah yang masih peduli dengan mereka?
Coba saja tanyakan kepada para pelajar saat ini, siapakah di antara mereka yang serius bercita-cita menjadi guru? Pasti sedikit sekali jumlahnya. Mayoritas pelajar memiliki cita-cita menjadi dokter, pilot, sekretaris, pengacara dan macam-macam profesi lainnya yang mereka anggap sukses. Guru dalam benak mereka adalah orang-orang sederhana yang menjalani profesi untuk mencari sesuap nasi demi menghidupi keluarganya. Sedemikian buruknya kah nasib guru Indonesia?
Tadi malam ketika saya sedang menyaksikan acara Idola Cilik di RCTI, saya terenyuh mendengar para peserta menyanyikan lagu “Kepada Guru”. Liriknya seperti ini:
“Kita jadi bisa, menulis dan membaca, karena siapa? Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu, karena siapa? Kita bisa pintar dibimbing pak Guru, kita bisa pandai dibimbing bu Guru…, Guru bak pelita, penerang dalam gulita, jasamu tiada tara…”
Lirik lagu di atas menurut saya sangat tepat menggambarkan betapa besarnya peran guru dalam hidup kita semua. Namun, apa yang didapat oleh para guru sebagai imbalannya? Pahlawan tanpa tanda jasa. Sepertinya julukan itu benar-benar melekat pada profesi guru sehingga jangankan tanda jasa, penghargaan saja tidak pernah mereka dapatkan. Gaji kecil dan nasib yang tidak pasti, membayang-bayangi profesi guru saat ini. Hal ini membuat beberapa guru mencari pemasukan tambahan di tempat lain. Menjadi tukang ojek atau bahkan menjadi pemulung (saya pernah melihat di acara Kick Andy (Metro TV) mengenai kepala sekolah yang merangkap menjadi pemulung). Memprihatinkan bukan? Itu pekerjaan halal. Tidak semua guru dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti itu. Ada beberapa guru yang akhirnya mencari biaya tambahan dengan menaikkan harga buku di sekolah, memaksa para siswa untuk mengikuti kursus tambahan dengan biaya tambahan atau bahkan jual beli nilai (semua pernah saya alami ketika saya menjadi siswa). Mengerikan. Itu semua mereka lakukan karena terpaksa. Mereka tidak dapat lagi berpikir dengan jernih apa yang harus mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Guru juga manusia. Di balik profesinya yang mulia, dihormati, yang dituntut untuk selalu memberi contoh yang baik, sebagai manusia yang digugu dan ditiru, namun kenyataan hidup yang sulit membuat beberapa dari mereka melupakan itu semua. Kalau mental guru sudah berubah, bagaimana nasib anak-anak didik mereka? Seperti kata pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” . Pepatah tersebut menggambarkan bahwa keburukan yang guru lakukan dapat ditiru oleh para siswa dan bahkan mereka dapat berlaku lebih buruk.
Menyadari pentingnya peran guru dalam pendidikan nasional, seharusnya pemerintah dapat lebih menjamin kesejahteraan mereka. Kalau nasib buruk guru kemudian diikuti dengan rendahnya peminat masyarakat yang menjadi guru, lalu akan bagaimanakah nasib pendidikan di negara kita selanjutnya? Berita di televisi pernah menayangkan ada banyak sekolah di Indonesia yang kekurangan tenaga guru sehingga satu guru harus mengajar dua sampai tiga kelas dalam waktu yang bersamaan. Dengan keadaan seperti itu tentu saja tidak akan ada jaminan kualitas pendidikan, maka tidak akan tercipta generasi muda yang berkualitas untuk membangun negeri ini untuk menjadi lebih baik.






Kalau saja guru bisa kita bebaskan dari beban memikirkan ekonomi garis belakang, maka niscaya akan banyak orang memilih profesi sebagai seorang guru, karena menjadi guru itu adalah pekerjaan yang mulia dan penuh dengan pahala !
Waktu yang ada seharusnya digunakan oleh guru untuk meningkatkan kualitas diri agar lebih profesional dalam mengajar, bukan untuk melakukan kerja sampingan guna mendapat tambahan penghasilan. Saya setuju bila dalam kondisi seperti saat ini, disamping gajinya semua guru mendapat tambahan tunjangan guru setidaknya RP 3 s/d 5 Juta per bulan. Namun andaikan itu belum bisa terjadi karena keuangan negara belum memungkinkan, saya menghimbau para guru agar tetap bersabar dan tabah menjalankan tugasnya. Allah Swt akan memberikan balasan yang tak ternilai besarnya untuk setiap amal kebajikan umatNya! Selamat berjuang guruku!
Setuju…!
Semoga para guru bisa tabah dalam menjalani hidup ini dan menjalankan profesi sebaik-baiknya
Semoga kelak nasib mereka akan menjadi lebih baik.
minta teks lagu guru donk, ga apal neh
kita jadi bisa menulis dan membaca karena siapa
trusannya ga hapal, kirim ke email akuw yah
Banyak orang yg melecehkan profesi sbg guru. terkadang kita ga sadar, klo tanpa guru kita mau jadi apa??????
baru saja, saya kehilangan my the best teacher… karna beliau terpaksa berganti propesi karna suatu hal. semua anak2 menangis,,, itu tandanya mereka ga mau kehilangannya.. nah, dari kejadian itu, saya sadar, guru adalah bagian dari hidup kita.
setuju dahhh..
buat guru yggg tabah ia,sabar ajja ngajar murid jaman skrng.
dedicated to GURU: keep spirit,dont care bot the bad influence in ur carer but take care tu ur student future ONLY
Gabung di Grup Guru dan Pengajar Indonesia http://www.facebook.com/group.php?gid=203352392150