Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Di Balik Kata “CINA”

Apa sebenarnya arti kata “Cina”? Mengapa orang-orang keturunan Cina di Indonesia merasa keberatan untuk dipanggil “Cina”? Bahkan beberapa tahun yang lalu pernah ada sinetron Indonesia yang berjudul “Jangan Panggil Aku Cina”. Apa arti kata “Cina” sebenarnya dan mengapa kata itu menjadi sangat sulit diterima?

Lalu bagaimana pula dengan kata “Tiongkok”, “Tionghoa” dan “Mandarin” yang sering digunakan untuk menyebut negara, bangsa dan bahasa China? Dari mana asal kata-kata tersebut? Saya mencoba mengumpulkan data-data untuk memberikan informasi mengenai hal itu.

ASAL KATA “CINA”

Sebenarnya nama Cina atau China sendiri sudah dikenal oleh orang Barat sebelum Marco Polo masuk ke Tiongkok (Marco Polo masuk ke Tiongkok pada zaman Dinasti Yuan), dan periode semenjak ditutupnya Jalur Sutera hingga zaman Marco Polo sama sekali tidak ada kontak antara Barat dengan Cina (saat itu pula pedagang-pedagang dari Arab dan Gujarat belum lagi merintis jalur laut yang menghubungkan antara Barat dengan Cina). Kalau kita ingat pula ada salah satu pepatah Arab yang mengatakan: “Uthlubul ‘ilma walaw bish shiin” atau “Tuntutlah Ilmu sampai ke Negeri Cina” (di sini Cina dituliskan dalam bahasa Arab “Shiin”). Katakanlah Islam baru tiba di Arab tahun 600-an Masehi dan masuk ke Cina era Khalifah Utsman bin Affan, yang manapun, nama “Shiin” atau “Cina” berarti sudah dikenal 1200 tahun sebelum Invasi Jepang ke Cina.

(http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/…ina-adakah.htm)

Kata Cina sendiri diperkirakan berasal dari serapan bahasa Barat untuk menyebut “Negara Qin (baca: Cin)”. Pada era Reunifikasi Cina, Negara Qin menyatukan seluruh Cina Daratan dalam satu aturan, satu ukuran, satu negara, satu bahasa, dan satu tulisan, yaitu Aturan Qin, Ukuran Qin, Negara Qin, Bahasa Qin, dan Tulisan Qin. “Tulisan Qin” (The Qin Writing) ini lalu menjadi dasar bagi tulisan Cina hingga sekarang. Besar kemungkinan dari nama tulisan inilah nama “Cina” diserap.

Oleh orang Arab, Qin disebut sebagai “Shiin”, kemungkinan besar ini lalu diparafrasekan menjadi “Sino”, dari sini (mungkin) nama “Sino” lalu dibawa ke Eropa dan diserap dalam Dialek Germanic “Chine” (Franks: baca “Sin”), yang pada akhirnya lalu oleh orang Inggris menjadi “China” (ini karena sebagian bahasa Inggris terpengaruh juga oleh serapan dari bahasa Perancis selain dari Induk Bahasa Germanic).

Teori Pertama, ketika Napoleon Bonaparte menguasai Eropa (termasuk Belanda), mungkin juga kata ini masuk ke Belanda yang lalu membawanya ke Indonesia.

Teori kedua adalah bahwa kata “Cina” berasal dari bahasa Portugis “Cino” (kemungkinan besar terpengaruh dialek Perancis) yang lalu terbawa ke Melayu.

Teori ketiga adalah bahwa dari Arab, kata “Shiin” dibawa ke Nusantara yang lalu diadopsi menjadi “Cina”. Yang manapun teori ini…yang pasti adalah bahwa kata yang baku dalam bahasa Indonesia sebenarnya adalah “CINA” bukan “CHINA”. Ini karena dalam Aksara Jawa, tidak dikenal “CH” dan sebutan “Ai” untuk “i”. Mengenai dari akar bahasa mana dikenal Cina, mungkin sekali adalah dari Bahasa Jawa, tapi “CHINA” adalah EJAAN YANG HANYA DIKENAL DALAM BAHASA INGGRIS (padahal Inggris baru masuk ke Indonesia tahun 1805). Bahasa Jerman sebagai induk bahasa Inggris hanya mengenal “China”(dibaca: Cina).

ASAL KATA “TIONGKOK” DAN “TIONGHOA”

Tiongkok berasal dari kata “Zhong Guo” (baca: Chung Kuo) yang diartikan sebagai “Negara Pusat” atau “Dataran Pusat”. Sementara itu Tionghoa berasal dari kata “Zhong Hua” (baca: Chung Hua) atau yang berarti “Segala sesuatu mengenai Dataran (Negara) Pusat”. Tiongkok dipakai untuk menyebut seluruh wilayah nasional Cina, sementara Tionghoa menunjukkan hal kebangsaan. Menyebut “Tiongkok dan Tionghoa” sama saja seperti menyebut “Great Britain dan British”. Oleh karena itu, kita tidak menyebut “Negara Tionghoa” melainkan “Negara Tiongkok”, juga tidak menyebut “Bahasa Tiongkok” tapi “Bahasa Tionghoa”.

ASAL KATA “MANDARIN”

“Mandarin” sendiri sebenarnya berasal dari kata “Mantrin” atau dalam Bahasa Melayu berarti “Magistrate” (ini berasosiasi dengan kata “Mantri” yang lalu diartikan sebagai “Menteri”). Ini mungkin untuk menyebut Perwalian dari Dinasti Ming di Tiongkok atas wilayah-wilayah koloni di sekitar “Nan Hai” atau Laut China Selatan (antara lain Cham Papura, Tumasik, Malaya, Majapahit, Cha-li-fo-che, dan Annam).

(http://akula9.blogspot.com/2007/11/another-china-discussion-dari-forum-ke.html)

MENGAPA “CINA” BERKONOTASI NEGATIF

Saya pernah bertanya kepada beberapa teman keturunan Cina, mengapa mereka tidak mau dipanggil “Cina” tetapi tidak keberatan kalau dipanggil dengan sebutan China (baca: Cayna), Chinese (Caynis) atau Tionghoa. Mereka bilang, tidak terlalu tahu alasannya namun rasanya tidak enak saja mendengarnya. Sepertinya kata “Cina” memiliki konotasi negatif. Berdasarkan beberapa sumber saya menemukan beberapa alasan mengapa kata “Cina” terkesan tidak enak didengar, yaitu:

Menurut para ahli estimologi atau ahli asal kata yang menyusun kamus bahasa Inggris Oxford, kata China kemungkinan besar mengacu pada dinasti Qin, yang menguasai Tiongkok pada abad ke-3 SM. Artinya, kurang lebih adalah “orang-orang dari dinasti Qin”. Tetapi harian Kompas pernah mencatat dalam artikel tanggal 23 Oktober 2005 yang berjudul “Kebangkitan Si Orang Sakit” bahwa kata China mungkin juga berasal dari bahasa Jepang “Zhi na” yang artinya orang sakit.

Ada juga yang berpendapat, istilah China digunakan oleh Jepang karena kata itu bermakna “daerah ujung” atau “daerah pinggiran” alias “orang udik”. Dengan arti yang demikian, sebutan Cina untuk penduduk RRC oleh fasis Jepang tentu dimaksudkan sebagai sebuah ejekan atau makian.

(http://indonesian.cri.cn/1/2006/07/21/1@46919.htm)

Konotasi negatif itu begitu membekas sehingga sampai sekarangpun orang-orang keturunan Cina tidak ingin dipanggil dengan sebutan Cina. Sehingga dapat dipahami alasan di balik kata “Cina”.

About these ads

May 8, 2008 - Posted by | Budaya Tionghoa

37 Comments »

  1. Menarik juga ya, lalu kenapa mereka lebih happy dipanggil orang Tionghoa? Dari mana asal kata Tionghoa ?
    Tetapi yang pasti adalah bahwa kita harus bisa menerima secara sadar dan sepenuh hati bahwa warga “suku Tionghoa” yang Warga Negara Indonesia adalah bagian dari bangsa Indonesia, sama dengan kita yang berasal dari Suku Jawa, Sunda, Aceh, Kalimantan, Maluku, Papua dll.
    Bhineka Tunggal Ika, keberadaan mereka di sini telah memperkaya khasanah kebangsaan dan kebudayaan Indonesia !

    Comment by Anton H Biantoro | May 8, 2008 | Reply

  2. Terima kasih Ka Badan atas tanggapannya..

    Saya sudah meng-edit tulisan di atas dengan menyertakan juga asal kata “Tiongkok”, “Tionghoa” dan “Mandarin”.
    Sebenarnya mereka hanya ingin “tidak dipanggil dengan kata Cina” sehingga kata yang pas untuk menggantikan kata “Cina” itu adalah “Tionghoa” atau “Chinese”.

    Saya setuju suku Tionghoa Warga Negara Indonesia adalah bagian dari kita bangsa Indonesia. Sebaiknya kita tidak membeda-bedakan mereka karena kita semua memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai Warga Negara Indonesia.
    :-)

    Comment by Retno Damayanthi | May 8, 2008 | Reply

  3. Tambahan, Tiongkok berasal dari 2 kata (Hok Kian) Tiong yang berarti tengah/pusat dan Kok yang berarti negara/kerajaan. Sedangkan buat orang Tio Ciu (Teow Chew – english spelling) mereka menyebutnya Tongkok (Tong = Tengah/pusat dan Kok = negara/kerajaan. Sementara Cung Kuo adalah bahasa Mandarin dengan arti yang sama. Perbedaan ketiganya adalah pada dialeknya. Orang kek (Hakka – english spelling) akan menyebut dengan sebutan yang berbeda sesuai dengan dialek mereka demikian juga dengan yang lainnya seperti Hainam, Hok Chia, Heng Hue, dsbnya. Mandarin sendiri asalnya adalah salah satu dialek seperti halnya Teow Chiew, Hok Kian dsbnya. Bahasa ini digunakan oleh orang Beijing yang kemudian menjadi bahasa persatuan, bahasa negara seperti halnya bahasa Indonesia (berasal dari bahasa melayu yang merupakan lingua franca di jaman dulu).

    Comment by bunny | September 4, 2008 | Reply

  4. terima kasih banyak bunny untuk tambahan informasinya, salam kenal :-)

    Comment by Retno Damayanthi | September 4, 2008 | Reply

  5. Wow… menarik sekali..

    Baru kali ini saya menemukan blog dan postingan yang membahas detail mengenai hal-hal tentang China, Mandarin, sampai mengenai arti kata “China” dan “Tionghoa”. Saya senang membacanya, karena unik dan saya sebagai suku Tionghoa, merasa sangat nyaman membacanya.

    Comment by Iklan Baris | December 22, 2008 | Reply

  6. akhirnya saya tahu dimana saya harus menulis unek2 saya selama ini.
    Yaitu kenapa sih orang2 yang berasal dari negara China itu tidak mau disebut cina ?
    saya adalah keturunan jawa, maka tidak mungkin saya memungkiri disebut sebagai orang jawa.
    Orang padang, yang tidak akan bisa memungkiri kalau jika disebut sebagai orang padang begitu pula dengan batak.
    Walaupun pada saat di bangku sekolah dasar – mereka selalu diledek dengan kata2 : “batak lu” – “padang lu” –

    “jawa lu”. Lalu apa bedanya dengan “cina Lu” ???
    Bagaimana mungkin saya menyebut seseorang dengan nama yang berbeda dari tempat mereka berasal ??
    Bagaimana mungkin saya tidak memanggil Cina, kepada seseorang yang berasal dari negara yang dinamai China oleh warga negaranya sendiri!

    Bagaimana mungkin, saya tidak menggunakan kata cina, pada saat yang bersamaan anda tidak protes ketika bangsa Amerika / Eropa menyebut negara nenek moyang kalian sebagai negara China (baca : Chayna) dan orang2nya disebut dengan chinese (baca : Chaynis)
    Kami kaum suku melayu menyebut cina bukan dengan maksud menghina. Tapi karena memang lidah kami lidah melayu.
    Jika orang “bule” menyebutnya dengan “Chayna”, kami para melayu menyebutnya dengan “cina”.

    saya berpikir simple saja kok. Mungkin banyak yang seperti saya. Tidak mau repot dengan istilah intelektualitas kosa kata, sejarah or apalah namanya seperti yang telah anda uraikan diatas.

    Sekali lagi– simple saja– kami menyebut anda cina karena memang anda berasal dari negara itu.
    Cina karena berasal dari CHINA !
    CHINA adalah kata yang diakui oleh seluruh dunia dan diakui oleh negara itu sendiri.
    Tidak ada yang salah dengan nama itu !!

    Perhatikan baik2. Semua yang berhubungan dengan China selalu ditulis dengan kata CHINA.
    Itu arti jika mereka mengakui nama itu, bangga dengan nama itu dan sama sekali tidak merasa terhina.
    Mereka selalu dengan bangganya memberi branded dibelakang produknya dengan kata2 “made in CHINA” !
    Tim badminton mereka selalu dengan bangganya memasang kata “CHINA” dipunggungya.
    TV nasionalnya menggunakan istilah CCTV kependekan dari CHINA Central Television

    salahkah kami menyebut anda orang Cina hanya karena anda berasal dari negara China ?
    salahkan kami menyebut anda orang Arab hanya karena anda berasal dari negara Arab ?
    salahkan kami menyebut anda orang India hanya karena anda berasal dari negara India ?

    Bahkan kami memanggil orang “BuLe” bagi mereka yang berkulit putih. kok anehnya mereka tidak protes ??

    Tapi jika anda memang tidak berkenan disebut dengan cina, maka saran dari saya segeralah diurus itu negara leluhur anda agar menghapus seluruh kata “CHINA” dari kamus bahasa negeri itu dan menggantinya dengan kata TIONGKOK or TIONGHOA. Kemudian langkah selanjutnya – segeralah mengirim utusan ke PBB untuk mengganti nama negara tersebut dari “People’s Republic of CHINA” menjadi “People’s Republic Of TIONGKOK”.

    Tapi terlepas dari itu semua, menurut saya issue yang muncul seharusnya bukan masalah Cina apa Tionghoa !?
    Tapi seharusnya issue yang bagus ialah — mau jadi “Babe” apa “Bajingan” ?!

    Bukankah akan jauh lebih cantik jika anda berjuang untuk kata panggilan “Babe” -bagi mereka yang hidup di tanah betawi. Atau anda berjuang untuk panggilan “Gus” di depan nama cina anda, bagi mereka yang hidup wilayah jawa timur. atau berjuang untuk panggilan “abang” – bagi mereka yang hidup di sumatera utara.

    Mata boleh sipit… tapi jika masyarakat menyapa anda dengan sebutan “Babe”, or Gus, or Abang. Saya yakin dia pasti bukan orang sembarangan. Inti dari maksud kalimat ini adalah : MEMBAURLAH DENGAN MASYARAKAT !!

    Jika anda tinggal di Betawi dan memperoleh panggilan Babe… mungkin sayapun bakal mencium tangan anda.

    salam hangat.

    Comment by masjovi | October 31, 2009 | Reply

    • cuma mo kritik kalimat anda “Bahkan kami memanggil orang “BuLe” bagi mereka yang berkulit putih. kok anehnya mereka tidak protes ??”

      ==========================================================
      kata siapa ? west people kalau tau arti bule yang dasarnya karena kulit, pasti juga akan keberatan. istri saya orang barat. dia ga suka dg kata “bule”. tapi lebih nyaman dipanggil, “white people” atau “west people”.

      kulit putih tidak sama dg bule

      Comment by joe | June 29, 2010 | Reply

      • gak juga boss…
        temen maenku juga orang bule…
        dipanggil… wooiii bule !! bulee sini luuu !!
        ga papa tuh dia .. enjoy2 ajah
        …so, pointnya adalah… orang bule berpikirnya simple ajah… masih ada yg jauh lebih penting daripada hanya sekadar memikirkan panggilan…
        buat apa panggilannya keren tapi tabiatnya maling !!

        Comment by primes | July 28, 2010

    • Kalau memang Anda berNIAT baik dan tulus, tentu anda tidak akan sekali-kali memanggil seseorang dengan label-label (apalagi jika tidak kenal dan dengan cara KASAR) tapi dengan panggilan wajar2x saja atau nama ybs saja, nama saya adalah Edward misalnya, saya memiliki ciri-ciri khas suku/etnis tertentu. Tentu saya akan jauuh lebih suka dipanggil dengan nama saya Edward atau paling tidak dipanggil “pak”, “sdr”, dsb. daripada dengan “Hey, Cina!” “Hey Batak”, “Si ras A, B, C, si agama A, B, C…” apalagi “si Kafir”, “hey Nigger” (hati2x Anda kalau traveling ke Barat bertemu orang hitam Anda main panggil dia Nigger=hitam, anda akan dapat masalah besar, walaupun nigger=negro adalah HITAM)

      Ingatlah anda lahir ke dunia ini dengan tidak diberikan pilihan bentuk jasmaniah apa yang Anda miliki dan di tempat mana Anda harus lahir dan ada batas yang besar antara pribadi dan golongan. Karakter Anda persis seperti kaum Racist dan BULLY (zalim) di dunia barat. Anda tahu betapa rendahnya orang2 Asia, para TKI, TKW (apalagi jika anda beragama tertentu) seperti anda akan dipandang di sana? Dunia kini semakin kecil. Bertenggang rasalah sedikit.

      Comment by Gamoto | February 5, 2013 | Reply

  7. sebenarnya jangan terus bertanya mengapa dan mengapa, tapi pikirkan saja toleransi antar manusia. Apabila anda tidak ingin dipanggil dengan sebutan tertentu (yang pasti ada alasannya) alangkah baiknya anda mengubah panggilan itu. Di artikel ini saya mencoba mengumpulkan alasan mengapa “cina” berkonotasi negatif. Lagipula menyebut orang dengan sebutan “cina” atau “jawa” atau “batak” bukankah seperti mengkotak-kotakkan orang? Bukan hanya suku atau daerah, mungkin ada juga di antara kita yg tidak suka dipanggil dengan sebutan si kurus, si gemuk, si putih, si hitam, dsb.

    Bagaimana bisa membaur kalau sebutannya saja dibedakan. Semoga suatu saat nanti kita semua cukup disebut “orang Indonesia”.

    terima kasih commentnya, salam hangat

    Comment by Retno Damayanthi | October 31, 2009 | Reply

  8. sebetulnya tidak ada lagi yg perlu anda tanggapi. Tidak ada lagi yg perlu dibahas seandainya anda benar2 membaca, menyimak dan meresapi uraian saya diatas. Anda memulai ulasan suatu issue SARA diawali dengan perasaan benci, dendam dan marah. saya tidak tahu pengalaman apa yang anda peroleh selama ini. Tapi jika sesuatu pemikiran telah diawali dengan perasaan ketidakpercayaan, perasaan dibeda2kan, perasaan dendam masa lampau maka dendam itulah yang akan melahap seluruh semangat anda.
    semoga anda mendapat pencerahan.

    salam hangat.

    Comment by masjovi | November 7, 2009 | Reply

  9. setelah saya membaca tulisan-tulisan di atas ternyata cukup banyak yang melenceng dari fakta. saya harap tulisan di atas direvisi agar sesuai dengan yang sebenarnya. terlepas dari itu semua, saya sebagai etnis tionghoa bangga karena ada yang mau membeberkan sejarah-sejarah mengenai tionghoa.

    Comment by herryawan irfanto | November 21, 2009 | Reply

  10. orang china gak mau dipanggil china ?? maunya dipanggil tionghoa ??!!
    siap Boss … aku skrg akan panggil semua keturunan china dengan sebutan Tionghoa.
    Tapi aku mulai sekarang aku juga tidak mau dipanggil sebagai Orang Jawa. Tapi panggil aku dengan sebutan Kaningratan Trembesing Madu. Karena menurutku kata “JAWA” mengandung unsur PENGHINAAN yang berkonotasi sangat NEGATIF. Karena bagi sebagian warga Non Jawa digunakan sebagai ejekan atau Makian !!

    Comment by marwoto | December 24, 2009 | Reply

  11. idem dengan yang diatas.
    mulai sekarang aku juga akan panggil orang cina dengan sebutan tionghoa. Tapi dengan syarat, mereka yang keturunan tionghoa agar memanggilku dengan sebutan radenmas ningrat trembesing madu.
    Alasannya sama dengan mas yang diatas. Karena kata Jawa berkonotasi negatif dan bagi sebagian warga digunakan sebagai ejekan dan penghinaan.
    ;-P

    Comment by suharto | December 25, 2009 | Reply

  12. jadi kalau boleh berkesimpulan… setelah membaca ulasannya retno damayanti, saya tetap tidak mendapatkan benang merah yang saya cari2 selama ini ! yaitu : Apakah arti sesungguhnya kata “CINA” ? Dari mana asalnya ? Siapa Pencetusnya ? Dan menggapa orang-Orang keturunan dari tanah airnya Jet Li, Yang Yang, Yao Ming, dll, itu tidak mau dipanggil dengan kata Cina (tapi tidak keberatan jika dipanggil chayna or chinesse… ) ;-) <- apa bedanya.. hiks.. ;-)

    ada temen2 pakar yang bisa bantu ??

    Comment by casiyem | December 25, 2009 | Reply

  13. wah saya seneng dengan penjelasan argumen anda tentang defenisi cina…..saya sekarang dapat ilmu baru….moga bermanfaat……

    Comment by abu khaer | February 3, 2010 | Reply

  14. hem…tadi mlm aku habis dengerin unek-unek dari temanku yg tionghoa…dy bilang”aku benci deh orang-orang manggil aku CINA,dasar orang-orang gak beradap,mereka tu gak tau arti kata CINA,tapi seenaknya manggil orang dngan sebutan cina,padahal artinyatu melecehkan kami,kata orangtuaku”
    ..itu katanya…,
    ..kalau menurutku (yang mungkin tidak benar),mungkin orangtua mereka mengajarkan pada mereka jangan mau d’bilang orang cina karna indonesia kan pernah ada zaman dimana orang-orang tionghoa sangat dibenci dan d’intimidasi, sehingga beberapa dari mereka menyangkal diri sebagai org tioghoa..
    jadi,mungkin ini “dulu” salahsatu cara agar mereka tidak mengakui bahwa mereka orang cina”!

    “maaf ya kalau ad yg keberatan………

    Comment by bella | October 23, 2010 | Reply

  15. Sebenarnya kami tidak keberata dipanggil dengan sebutan cina asalkan tidah ada maksud tertentu dalam kata cina itu sendiri, akan tetapi pd beberapa dekade yg lalu kata2 cina itu sendiri selalu dibarengi dengan kata2 kasar lainnya seperti dasar cina dsb…dsb…tidak prnh Ƙǟπ ada dasar tionghwa atau dasar tiongkok…maka dari itu kami lbh memilih tidah dipanggil dengan sebutan cina…Dan benar comment2 diatas dan tidak ada yg salah… Kalau kami sebagai keturunan cina tidak boleh disebut dengan cina lantas bagai mana dengan suku2 yg lain….selama panggilan itu tidak bermaksud yg tidak baik kenapa tidak?

    Comment by abc | April 7, 2011 | Reply

  16. tetap bgsa jawa adlh bgsa yg hebat

    Comment by raden mas hendrö | April 14, 2011 | Reply

    • Calon penerus Hitler

      Comment by fjakf | August 2, 2011 | Reply

  17. Orang Cina di Indonesia ingin menghapus konotasi negartif dari perilaku para orang Cina di Indonesia yang sering melakukan perendahan martabat kepada para orang Pribumi Indonesia sejak zaman Belanda. Para Orang Cina di Indonesia merasa mereka golongan menengah yaitu diatas dari sebutan Inlander kepada bangsa Pribumi Indonesia selama itu dan bangsa Belanda saat itu sebagai bangsa tertinggi kastanya.

    Lucu yaaa, tidak keberatan jika dipanggil Chayna or Chineese, padahak sama saja. Orang Cina di Indonesia merasa dengan kemampuan mereka mendominasi ekonomi Indonesia, sudah saatnya mendikte bangsa pribumi Indonesia agar pribumi Indonesia tidak lagi menyebut Cina akan tetapi menyebut mereka dengan Tionghoa.

    Seperti saat sekarang ini setiap perayaan hari besar Cina, mereka menjadikan momentum mengekspose secara besar-besaran budaya Cina di Indonesia sehingga berkesan Cinanisasi Indonesia. Hal ini terjadi diseluruh perkotaan besar maupun kecil di seluruh Indonesia serta diekpose juga secara besar-besaran.

    Seharusnya para orang Cina di Indonesia larut lah secara akrab bersama pribumi Indonesia lalu mengadopsi budaya daerah setempat dimana dia berada. Janganlah membesar-besarkan budaya sendiri yang itu merupakan budaya asing yang dapaksakan menjadi bagian budaya di Indonesia. Pakailah pakaian Batak jika berada mukim di Batak juga bahasa Batak, pakailah budaya Jawa dan bahasa Jawa bila mukim di Jawa, pakailah budaya Sunda dan bahasa Sunda jika bermukim di tanah Sunda, pakailah budaya Makassar/Bugis jika mukim di Bugis dan seterusnya serta orang Cina menghidupkan budaya setempat pada keluarga mereka masing-masing sebagai bukti nyata larut kedalam budaya etnis bangsa Indonesia.

    Comment by Wanda | February 4, 2012 | Reply

  18. Seandainya Bangsa Indonesia yang berada di Negara daerah Cina, lalu mengadakan secara besar-besaran salah satu dalam budatya Indonesia yaitu seperti budaya Padang, Budaya Sunda, Budaya Jawa, Budaya Bugis, Budaya Batak tentu akan menjadi masalah besar dan tidak akan mendapatkan izin dan akan terjadi penolakan yang sangat kuat. Bandingkan seperti terjadi kepada etnis Cina di Indonesia, kalau begitu, masyarakat dan pemerintah kita sangat lemah dan banyak yang tidak mengerti tentang “DOMINASI BUDAYA ASING DI INDONESIA”…

    Comment by Wanda | February 4, 2012 | Reply

  19. Tionghoa berasal dari kata “Zhong Hua” (baca: Chung Hua) atau yang berarti “Segala sesuatu mengenai Dataran (Negara) Pusat”. Tiongkok dipakai untuk menyebut seluruh wilayah nasional Cina.

    ARTINYA ADALAH, DENGAN MENGATAKAN ORANG CINA DENGAN “TIONGHOA” SENYATANYA ADALAH BANGSA INDONESIA MENGAKUI BAHWA WILAYAH INDONESIA ADALAH BAGIAN DARI DATARAN CINA (TIONGKOK).

    Inilah yang sangat berbahaya bila kita semua anak bangsa Indonesia mengatakan mereka itu Tionghoa.

    Maka sekarang ganti kembali TIONGHOA dengan kata CINA …..CINA…….CINA…..CINA…..CINA…..CINA.

    Comment by Wanda | February 4, 2012 | Reply

  20. Kenapa orang Cina (baca: cina) lebih respect kepada orang yang memanggilnya China (baca: chaina) ?

    Semua itu kembali kepada intonasi pelafalan yang diucapkan. Bahasa Mandarin yang merupakan ibu bahasa dari etnis Tionghua ini, SANGAT menekankan pada ucapan pelafalan, sedangkan pada Bahasa Indonesia tidak ada cara baca yang baku yang fatal. Dalam Bahasa Mandarin, cara baca sama, intonasi beda, maka artinya juga berbeda. Hal ini lah yang telah dibawa masing-masing kita sejak lahir dari nenek moyang sampai kita dewasa, dan sekaligus menjadi penyebab sulit nya kita terima dengan akal sehat alasan munculnya banyak pertanyaan mengapa begini mau, mengapa begitu nga mau….

    Ada pepatah mengatakan, “Kenali terlebih dahulu lawan bicara Anda” atau “Kenali lawan Anda sebelum bertanding”
    Bila Anda mengerti maksud yang telah saya sampaikan ini, Anda telah selangkah LEBIH MAJU dalam perjuangan hidup ini karena pepatah selalu berpengaruh secara global / luas.

    Salam kompak buat Indonesia slalu !!!

    Comment by Rudy | February 22, 2012 | Reply

  21. aneh memang, orang cino dipanggil cino tidak mau, padahal sudah mendunia panggilah itu.
    kalau orang jowo kan tambah suka dipanggil jowo, soalnya artinya dermawan.hehehe…

    Comment by Shan | April 1, 2012 | Reply

  22. menurut saya pengucapan kata cina itu memang sudah ada dari dulu jadi untuk merubahnya begitu saja jelas sangat tidak mudah, apalagi di indonesia lidah kebanyakan orang memang begitu, terkadang kita mengungkapkan sesuatu yang menurut kita mudah gak peduli pengucapanya salah atau benar, misalnya saja kata AC, pengucapannya pasti adalah “ase” bukaanya yang sesuai pengejaanya yaitu “ace” dan jika diucapkan dalam pengucapan logat inggris maka akan menjadi “eisi”. jadi yang paling mudah menyebutkannya adalah “ase” tidak peduli pengucapannya mana yang benar dan mana yang salah.

    Comment by lindaa | May 13, 2012 | Reply

  23. bangsa yg bener2 xenophobia. beberapa argumen nampak konyol dan bahkan ada yg tidak mau tahu asal etimologis kata tionghoa. pertanda alur pembentukan ide, pemikiran, bahkan kebencian di republik ini hanya warisan dari generasi lampau dan celakanya generasi skrg mempertahankan dgn membabibuta. tionghoa memang berarti negara pusat tp perlu diingat penamaan negara tergantung pd dinasti yg berkuasa spt halnya dinasti Qin yg disebutkan di atas. asal Zhōngguó berasal dri penamaan ibukota pada zaman dinasti Zhou dan mengalami perubahan makna politik saat Dr. Sun Yat Sen memproklamirkan lahirnya negara China (Zhonghua Minguo) yang merupakan transisi negara demokratis dari negara kerajaan dan kata Zhonghua jg muncul saat proklamasi RRC (Zhonghua Renmin Gongheguo). Sungguh konyol argumen klo kita mngucapkn kata Tionghoa seolah2 NKRI sbg bagian dri RRC.

    Orang2 perantauan lebih disuka disebut Tionghoa ktimbang Cina krn kata Cina bermakna derogatory melecehkan/merendahkan) krn banyak stigma negatif yg ditambahkan di belakang kata cina (mis. cina loleng/ cina jorok). Skrg klaim apa yg bs diusung oleh “pribumi” klo ternyata banyak perantauan dari luar daerahnya sendiri banyak yg tdk diterima di daerah rantau? kata pribumi sendiri absurd dan masih jg dipakai padahal kata pribumi merupakan bentukan kolonial belanda untuk mensegregasi orang2 eropa dgn org2 jajahan. Apakah org tionghoa perlu membaur? Ga perlu! saya kasih argumen konyol: klo anda berada di Sumut, apakah anda akan berkata seperti orang batak, ato bahkan memberi marga di belakang nama belakang anda padahal marga merupakan trah yg diturunkan berdasar darah keturunan? tentu tidak.

    Pada perjalanannya, org tionghoa sendiri sudah berupaya “membaur” dgn komunitas. 2 organisasi didirikan dgn pemandangan yg bertolak belakang. PSMTI (paguyuban Seluruh Marga Tionghoa Indonesia) yg mengusung akulturasi alias menghilangkan hal2 yg berbau negara leluhur seperti penggantian nama sesuai daerah yg dihuni bahkan sampai mengganti keyakinan agar bisa diterima). Satu lagi yaitu INTI (Indonesia Tionghoa) yg mengusung integrasi tanpa menghilangkan tradisi atau hal2 yang berbau negara leluhur.

    Banyak “pribumi” bilang klo org tionghoa itu maling. tp kita pibumi jg bs disebut maling krn merampok hak2 org tionghoa sbg warna negara dan hanya menyisakan hak ekonomi dan edukasi (mereka bahkan harus membuka sekolah sendiri tanpa subsidi pemerintah dan pada awal2 kemerdekaan keberadaan sekolah2 tionghoa tidak diakui pemerintah). Jangan lupa banyak orang tionghoa yang hidup melarat. jgn menggunakan populasi perkotaan sbg barometer “maling”. lihat di daerah2 sana.

    Bangsa Indonesia itu majemuk, pembauran bukan berarti menghilangkan identitas budaya dan warisan leluhur. Justru pelajaran “bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah dan penuh toleransi” itu harus dipertanyakan. jangankan bicara tionghoa, kasus sampang menjadi contoh sederhana bagaimana saat suatu org dari suku tertentu datang ke daerah yg dihuni suku lain tidak diterima kehadirannya dan saya yakin banyak kasus2 lain di belahan nusantara ini. Saya bukan orang tionghoa dan saya tidak akan me-welcome mereka dengan alasan mereka sendiri sudah berjuang mengambil bagian dlm sejarah republik ini. buat apa me-welcome klo sjk lama mereka memang sudah menjadi bagian dri NKRI?
    Saya cuma kesal dengan argumen2 konyol di atas yg menyiratkan kebencian dan yg lebih konyolnya lg mereka ga th knp mereka membenci dan harus membenci org tionghoa? Benar2 bangsa yg sakit. Xenophobia berlebihan dan ternyata “penuh toleransi” dimentahkan oleh sikap tidak bisa menerima kehadiran orang lain yg berbeda dari dirinya. Kpn bisa maju ini republik klo masih banyak yg ga bisa menerima perbedaan dan hanya bisa menerima jika sama?

    Comment by betina binal | May 19, 2012 | Reply

  24. UUD 1945 menyebutkan, seseorang yang terlahir di Indonesia adalah warga negara indonesia asli. Indonesia adalah negara BHINEKA TUNGGAL IKA.
    Saudara saudara sebangsa dan setanah air, marilah kita jaga NKRI sebagai harga mati.
    Horas..

    Comment by ariel bastian | August 27, 2012 | Reply

  25. Kalau memang Anda berNIAT baik dan tulus, tentu anda tidak akan sekali-kali memanggil seseorang dengan label-label (apalagi jika tidak kenal dan dengan cara KASAR) tapi dengan panggilan wajar2x saja atau nama ybs saja, nama saya adalah Edward misalnya, saya memiliki ciri-ciri khas suku/etnis tertentu. Tentu saya akan jauuh lebih suka dipanggil dengan nama saya Edward atau paling tidak dipanggil “pak”, “sdr”, dsb. daripada dengan “Hey, Cina!” “Hey Batak”, “Si ras A, B, C, si agama A, B, C…” apalagi “si Kafir”, “hey Nigger” (hati2x Anda kalau traveling ke Barat bertemu orang hitam Anda main panggil dia Nigger=hitam, anda akan dapat masalah besar, walaupun nigger=negro adalah HITAM)

    Comment by Andreas | February 5, 2013 | Reply

  26. Kita bisa berdiskusi dengan jernih utk mencari dan memahami banyak hal, manakala tdk didasarkan pada prasangka dan kebencian. Keragaman seharusnya menjadi kekayaan yg perlu kita syukuri sebab hal itu mrpkn karunia dari Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita seharusnya tdk membenci suatu ras karena semata-2 mereka tdk sama dgn kita.

    Comment by Winarno Yudho | February 10, 2013 | Reply

  27. sebab orang tionghoa(artinya china)dalam dialek hokkian ogah disebut cina menurut saya ada 2,yaitu karena nama itu berasal dari dinasti chin(chin sh huang ti)yg lalim dan kejam,memaksa bangun great wall dan memakan banyak korban,orang china sendiri tidak suka dinasti chin,coba lihat ada ngga restoran pake nama chin dinasti atau chin palace?kalo ming dan tang dinasti banyak karena rajanya bijak dan adil,yg kedua kaum china pernah alami diskriminasi ras ,dan kata umpatan selalu dimulai dengan kata cina,sehingga

    Comment by jimmyvarianwynn | February 26, 2013 | Reply

  28. menurut saya diskusi ini koq jadi saling menjelek2 kan … artikel nya kalau saya baca hanya menjelaskan mengapa tidak cina konotasi nya negatif. gitu aja koq repot. kalau sudah tau itu negatif menurut beberapa org ya apa susahnya dan tidak rugi apa2 memanggil dengan sebutan yang menyenangkan. kalau tidak mau ya sudah ,, menurut saya kalau saya tau org barat ada yang gk mau di panggil bule ya gk saya panggil dia dengan bule. kl saya gk tau dia suka atau gak, maka saya akan panggil dengan panggilan yang normal dan saya yakin dia tidak tersinggung. bila ada org jawa tidak suka di panggil jawa ya panggil aja org indonesia. bila ada org chinese tdk suka di panggil cina, ngapain kita harus repot mempermasalahkan dia tidak suka kenapa… ya cukup jgn dipanggil cina.. itu menunjukkan kita dewasa. daripada saling balas membalas.. kyk taman kanak2 . maaf ya

    salam persatuan.
    panggil aja kita semua org indonesia

    Comment by andrian | June 12, 2013 | Reply

  29. Izin nambahin:
    Saya sendiri sebagai keturunan orang Jawa (bukan murni sih :p ). dulu saat masih usia kanak2 saya sering mendengar nenek menyebut nama CINA dg nada menghina, dan ketika dipanjangkan beberapa sebutan itu sangat tidak enak untuk didengar:
    -CINO : Sucine Ora Ono
    -SINGKEK : Suwal Pesing, Gak Didekek

    Menurutku itu sebutan yang terlalu menyakitkan buat mereka. Emang katanya orang jawa itu Jowo (ramah, baik dsb) tapi jangn lupa kalo kami juga punya kebiasaan buruk seperti menyindir dg samar dan semacamnya.
    Tahu kan istilah Menir, Cino, Singkek, Dagadu dll (semuanya bermakna menghina).

    Mungkin itu berangkat dari dendam pribadi mereka ato semacamnya, tapi kiranya kurang pantas kalau hal itu dilanjutkan.
    Ane sendiri keturunan Jawa

    Comment by Gubix | August 2, 2013 | Reply

  30. Sialan Loe,Orang Melayu Mah Pada Tolol,Julalan Mahal-Mahal.Liat Aja Orang Cina Murah Murah,Tapi Laku juga kan??!!.Akhirnya orang cina pada sukses,Orang Melayu Pada Iri.bisa aja di fitnah,di bunuh. karna Iri.
    Lu aja Beli Barang Aja “Made In China” Kembang api aja dari china .

    Comment by kenny | October 28, 2013 | Reply

  31. Kalau mereka orang cina keberatan disebut dengan itu, mengapa pula di daerah asli mereka menyebut diri sendiri dengan cina ?

    Comment by edy | December 4, 2013 | Reply

  32. chin arti dari bahasa hokkian dan mandarin adalah mesra , jika ditambah a( chin-a) berarti sangat mesra atau mesra sekali , karena dari jaman dinasty cin atas pembangunan besar2an yg memakan korban yg besar juga yg dianggap kejam maka sebagian besar bangsa china yg mengungsi dari china tidak mau dipanggil china karena takut dianggap oleh bangsa lain didunia ini sebagai bangsa yg kejam saja , saya sebagai keturunan china gak merasa terganggu atas panggilan china , karena menurut saya dalam arti yg saya ketahui adalah sangat mesra atau tionghua (tiong= tengah /penengah dan hua = adil/damai) adalah suatu sifat yg diinginkan suku atau bangsa mana pun didunia ini, kecuali panggilan itu ditujukan sebagai hinaan atau ejekan ,mau apapun panggilan itu jelas saja sangat menyakitkan bukan?, sekarang permasalahannya bukan dikata tapi ditujuannya , salam manis dan mesra dari saya kepada semuanya ^^

    Comment by halim | December 14, 2013 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: