Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

My Green Office

Global Warming bukan hanya isu yang pantas dibahas pada Hari Bumi atau Hari Lingkungan Hidup. Pun tak melulu harus menjadi bagian dari gerakan besar penyelamatan lingkungan. Kita bisa memulai dengan hal yang sangat sederhana. Yang sangat dekat dengan keseharian kita. Salah satunya di kantor.

Secara tidak sadar banyak kebiasaan kita di kantor yang tidak ramah lingkungan. Anda bisa memperbaikinya dengan mengubah jadi lebih peduli dengan cara-cara berikut ini:

1. Hemat Kertas

Gunakan kertas bolak balik. Tindakan ini bisa menghemat penggunaan kertas 50%. Kumpulkan kertas yang satu sisinya masih kosong. Pakai ulang kertas tersebut untuk mencetak dokumen yang tidak terlalu penting atau yang bersifat konsumsi pribadi.

2. Sistem Online

Penggunaan kertas bisa diminimalkan dengan penggunaan sistem online. Misal, laporan kerja tidak harus dicetak di kertas baru diserahkan kepada atasan. Bisa saja laporan anda kirim lewat e-mail.

3. Daur Ulang Tinta

Coba untuk mendaur ulang cartridge tinta printer. Hampir semua toko alat tulis kantor menerima cartidge tinta bekas.

4. Tongkrongi Printer

Untuk mencegah kertas print Anda hilang sehingga mesti mem-print ulang, segera ambil hasil printer Anda.

5. Minum Sampai Tandas

Usahakan untuk menghabiskan air minum di gelas atau botol. Hindari membuang air minum yang tersisa di gelas atau botol. Gunakan untuk menyiram tanaman di meja.

Read more »

June 26, 2008 Posted by Retno Damayanthi | Dunia Kerja | | 18 Comments

Wanita, Antara Karir dan Rumah Tangga

GloriaNet - Di jaman teknologi informasi sekarang ini, sosok wanita karir yang sukses merupakan fenomena umum di kota-kota besar, sekalipun itu seorang ibu rumah tangga. Memang tidak sedikit wanita yang menjalani fungsi ganda, sebagai wanita karir maupun ibu rumah tangga. Bagi yang pandai menyiasati waktu, sukses di kedua bidang tersebut bukanlah hal yang mustahil. Namun bagi yang kewalahan membagi waktu, tak jarang harus mengalami salah satu kegagalan. Kondisi ini membuat wanita terpaksa harus memilih, rumah tangga atau karir.

Memang tidak mudah memainkan peran sebagai wanita karir atau wanita pekerja sekaligus ibu rumah tangga yang baik. Karena kedua dunia itu memiliki tuntutan dan konsekuensi yang sama beratnya. Banyak perusahaan menilai bahwa pegawai wanita kerap kurang profesional setelah menikah dan punya anak. Misalnya sering datang terlambat ke kantor dengan alasan mengurus rumah, suami, dan anak. Secara fisikpun wanita yang kelelahan mengurus rumah tangganya jadi sering tampil ‘berantakan’, wajah kuyu dan jarang tersenyum. Perusahaan pun sulit menuntut lembur ataupun menugaskan ke luar kota pada pegawai wanita yang sudah menikah dan punya anak. Seandainya ditugaskan, tak jarang mereka menolak karena alasan rumah tangga.

Namun, sejauh ini banyak wanita yang mengimpikan kesuksesan di kedua bidang yang saling berseberangan itu, sukses dalam karir dan bahagia di rumah tangga. Wanita dengan ambisi tersebut akan berusaha keras untuk mencapainya. Memang sulit meraih keduanya, tapi bukan tidak mungkin anda sebagai wanita dapat meraihnya. Lalu bagaimana caranya?

Read more »

June 16, 2008 Posted by Retno Damayanthi | Dunia Kerja | | 16 Comments

Tentang Keberanian Untuk Bermimpi

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.” Sering kali kita mendengar slogan itu, dimaksudkan untuk membangkitkan motivasi kita dalam mencapai cita-cita atau menggapai impian. Apakah semua orang berani melakukan itu? Apakah semua orang dapat memiliki impian-impian tak terbatas mereka dan dengan semangat tinggi mencoba meraihnya? Mungkin ya, tetapi saya tidak termasuk di dalamnya.

Saya adalah orang yang takut akan kegagalan. “Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda” adalah salah satu dari kalimat-kalimat mengenai kegagalan yang sering saya dengar. Namun tetap saja, bagi saya kegagalan adalah hal yang sangat menyakitkan.

Ketika saya memiliki impian dan ingin mewujudkannya, saya segera berpikir kegagalan-kegagalan yang mungkin terjadi. Bahkan kadang kala, ketakutan akan kegagalan yang mungkin muncul membuat saya mengurungkan niat untuk mewujudkan harapan dan impian saya. Saya tidak berani bermimpi. Sungguh sikap yang pengecut. Namun bagi saya, memikirkan kemungkinan terburuk adalah hal yang dapat membuat saya siap sewaktu-waktu kegagalan itu terjadi.

Pengharapan, itulah satu-satunya penangkal ketakutan (Lance Amstrong)

Spekulasi. Itulah yang selalu saya coba untuk hindari. Suatu saat saya pernah membaca di sebuat surat kabar mengenai alasan mengapa tidak ada orang Indonesia yang berhasil mendapatkan hadiah satu milyar dalam acara who wants to be a millionare. Alasannya adalah orang Indonesia bukan tipe pengambil risiko (risk taker), melainkan orang yang bermain secara aman (save player). Sehingga mereka tidak berani mempertaruhkan hal yang mereka punya untuk mendapatkan impian yang lebih besar (mungkin juga ini salah satu efek dalam pengharaman perjudian dalam masyarakat Indonesia).

Read more »

June 11, 2008 Posted by Retno Damayanthi | Opini | | 7 Comments

Chinese Foot Binding (Pengikatan Kaki di China)

Foot Binding atau pengikatan kaki adalah tradisi menghentikan pertumbuhan kaki perempuan zaman dahulu yang terjadi di China. Tradisi ini telah menghadirkan penderitaan besar bagi para perempuan China pada masa itu. Pengikatan kaki biasanya dimulai sejak anak berumur antara empat sampai tujuh tahun. Masyarakat miskin biasanya terlambat memulai pengikatan kaki karena mereka membutuhkan bantuan anak perempuan mereka dalam mengurus sawah dan perkebunan.

Pengikatan kaki dilakukan dengan cara membalut kaki dengan ketat menggunakan kain sepanjang sepuluh kaki dengan lebar dua inchi, melipat empat jari kaki ke bagian bawah kaki dan menarik ibu jari kaki medekati tumit. Hal ini membuat kaki menjadi lebih pendek. Pembalut kaki semakin diketatkan dari hari ke hari dan kaki dipaksa memakai sepatu yang semakin kecil. Kaki harus dicuci dan dipotong kukunya karena kalau tidak akan membuat kuku-kuku kaki di kaki yang diikat menusuk ke dalam dan menimbulkan infeksi. Jika balutan terlalu ketat maka dapat timbul buku-buku di kaki yang harus dipotong dengan pisau. Kemudian kaki juga harus dipijat dan dikompres dingin dan panas untuk sedikit mengurangi rasa sakit. Pengikatan kaki membuat siklus darah tidak lancar sehingga dapat membuat daging kaki menjadi busuk dan kaki dapat mengeluarkan nanah. Semakin kecil kaki seorang gadis maka akan semakin cantik ia dipandang. Panjang kaki seorang gadis hanya berkisar 10-15 sentimeter saja.

Pengikatan kaki sering menyebabkan kecacatan seperti kelumpuhan bahkan kematian anak-anak perempuan karena infeksi, namun hal ini telah dianggap normal. Pengikatan kaki juga menyebabkan perempuan sangat sulit berjalan dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal ini juga menyebabkan cacatnya para perempuan tua di China.

Read more »

June 7, 2008 Posted by Retno Damayanthi | Budaya Tionghoa | | 12 Comments

画 龙 点 睛 [huà lóng diǎn jīng] Menambah Mata pada Naga

It refers to using incisive sentence at crucial junctures when writing or speaking, thus making the content more living and vivid.

Hal ini mengandung arti bahwa menggunakan kalimat yang tajam pada saat yang penting ketika menulis atau berbicara, akan membuat isi menjadi lebih hidup dan bersemangat.

June 5, 2008 Posted by Retno Damayanthi | Idiom Bahasa Mandarin | | 6 Comments

Rokok, Antara Hak dan Kepedulian Terhadap Sekitar

Kemarin tepatnya tanggal 31 Mei adalah hari Anti Tembakau Sedunia yang dicanangkan oleh WHO (World Health Organization) sejak tahun 1987. Tidak semua orang tahu tentang hal ini, atau mungkin tahu tetapi tidak peduli. Buktinya kemarin tetap saja terlihat banyak orang merokok di tempat umum sama seperti hari-hari biasanya.

Saya yakin semua orang sudah tahu bahaya merokok. Namun mengapa para perokok itu tidak peduli. Segencar apapun kampanye anti rokok dilaksanakan toh tetap tidak mengurangi jumlah perokok. Sepertinya himbauan pemerintah untuk melarang merokok hanyalah sekedar himbauan angin lalu. Tidak akan ada rakyat yang takut atau peduli dengan himbauan-himbauan tersebut.

Pada waktu saya sekolah dulu, para guru melarang siswa-siswanya merokok. Yang ketahuan merokok segera diberi hukuman. Namun ironinya, ada beberapa guru yang mengajar sambil merokok. Apa gunanya hukuman itu? Apa karena pelajar sekolah masih muda lalu dilarang merokok? Kalau sudah tua boleh merokok? Begitukah? Para orang tua yang melarang anaknya merokok juga sering tidak bercermin diri. Bagaimana mungkin mereka melarang anaknya merokok sementara selama anak mereka tumbuh bekembang di rumah disuguhi oleh rokok orang tuanya? Adilkah itu?

Sebelumnya saya merasa beruntung karena dibesarkan dalam keluarga bebas rokok. Orang tua saya tidak merokok begitu juga dengan saudara-saudara kandung saya. Namun timbul masalah baru. Saya menjadi tidak tahan dan sensitif dengan asap rokok. Ketika berkunjung atau dikunjungi oleh kerabat yang merokok, maka tenggorokan saya akan langsung sakit dan pusing-pusing. Tersiksa sekali. Begitu juga di angkutan umum, stasiun dan tempat-tempat umum lainnya yang mengharuskan saya menghirup asap rokok dari para perokok di sekitar saya. Sedangkan saya melihat teman-teman saya nampaknya cuek saja dan tidak bermasalah dengan asap rokok tersebut walaupun mereka juga tidak merokok. Mereka bilang mereka sudah terbiasa dengan asap rokok. Di rumah, ayah mereka merokok begitu juga dengan saudara-saudara lainnya. Sehingga sakit tenggorokan dan pusing-pusing yang saya alami tidak mereka rasakan. Bahkan ada teman yang mengatakan, daripada menjadi perokok pasif yang mendapat racun tidak kalah besarnya dengan perokok aktif, lebih baik jadi perokok aktif saja sekalian. Menghirup asap rokok karena perbuatan sendiri lebih rela menerima akibatnya daripada menjadi perokok pasif.

Read more »

June 1, 2008 Posted by Retno Damayanthi | Opini | | 14 Comments