Rokok, Antara Hak dan Kepedulian Terhadap Sekitar
Kemarin tepatnya tanggal 31 Mei adalah hari Anti Tembakau Sedunia yang dicanangkan oleh WHO (World Health Organization) sejak tahun 1987. Tidak semua orang tahu tentang hal ini, atau mungkin tahu tetapi tidak peduli. Buktinya kemarin tetap saja terlihat banyak orang merokok di tempat umum sama seperti hari-hari biasanya.
Saya yakin semua orang sudah tahu bahaya merokok. Namun mengapa para perokok itu tidak peduli. Segencar apapun kampanye anti rokok dilaksanakan toh tetap tidak mengurangi jumlah perokok. Sepertinya himbauan pemerintah untuk melarang merokok hanyalah sekedar himbauan angin lalu. Tidak akan ada rakyat yang takut atau peduli dengan himbauan-himbauan tersebut.
Pada waktu saya sekolah dulu, para guru melarang siswa-siswanya merokok. Yang ketahuan merokok segera diberi hukuman. Namun ironinya, ada beberapa guru yang mengajar sambil merokok. Apa gunanya hukuman itu? Apa karena pelajar sekolah masih muda lalu dilarang merokok? Kalau sudah tua boleh merokok? Begitukah? Para orang tua yang melarang anaknya merokok juga sering tidak bercermin diri. Bagaimana mungkin mereka melarang anaknya merokok sementara selama anak mereka tumbuh bekembang di rumah disuguhi oleh rokok orang tuanya? Adilkah itu?
Sebelumnya saya merasa beruntung karena dibesarkan dalam keluarga bebas rokok. Orang tua saya tidak merokok begitu juga dengan saudara-saudara kandung saya. Namun timbul masalah baru. Saya menjadi tidak tahan dan sensitif dengan asap rokok. Ketika berkunjung atau dikunjungi oleh kerabat yang merokok, maka tenggorokan saya akan langsung sakit dan pusing-pusing. Tersiksa sekali. Begitu juga di angkutan umum, stasiun dan tempat-tempat umum lainnya yang mengharuskan saya menghirup asap rokok dari para perokok di sekitar saya. Sedangkan saya melihat teman-teman saya nampaknya cuek saja dan tidak bermasalah dengan asap rokok tersebut walaupun mereka juga tidak merokok. Mereka bilang mereka sudah terbiasa dengan asap rokok. Di rumah, ayah mereka merokok begitu juga dengan saudara-saudara lainnya. Sehingga sakit tenggorokan dan pusing-pusing yang saya alami tidak mereka rasakan. Bahkan ada teman yang mengatakan, daripada menjadi perokok pasif yang mendapat racun tidak kalah besarnya dengan perokok aktif, lebih baik jadi perokok aktif saja sekalian. Menghirup asap rokok karena perbuatan sendiri lebih rela menerima akibatnya daripada menjadi perokok pasif.














