Menjadi Sarjana
Bulan ini benar-benar berat dan melelahkan bagi saya. Awal bulan saya pindah rumah. Beberapa minggu sebelumnya sudah harus mulai mengemas barang. Tanggal 2 Agustus dengan meminjam truk kantor kami pindah rumah. Sesampainya di rumah baru, harus bersih-bersih dan merapikan barang-barang yang sangat banyak. Sampai sekarang pun kegiatan bersih-bersih dan beres-beres ini belum selesai. Kesibukan pindah rumah membuat saya sangat lelah dan membuat skripsi yang sedang saya jalani menjadi terabaikan.
Demi bisa konsentrasi dengan skripsi, saya memilih tinggal di rumah lama sendirian dengan barang-barang seadanya. Akhirnya hari Selasa 12 Agustus kemarin saya menjalani sidang skripsi di kampus Universitas Darma Persada. Alhamdulillah sidang berjalan lancar dan saya mendapat nilai A sebagai hasilnya. Sekarang hanya tinggal menunggu ijasah. Senangnya bisa membuat orang tua bahagia dan bangga. Kerja keras mereka terbayar sudah.
Dari dulu saya ingin sekali menjadi sarjana, sehingga hampir saja saya mengorbankan pekerjaan demi melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Beruntungnya saya karena Kapusdiklat Bahasa pada waktu itu (sekarang Kabadiklat, Bpk. Anton H. Biantoro) mengijinkan saya untuk menjalani kerja sambil kuliah.
Menjalani kerja sambil kuliah sangat menarik. Di kantor saya harus ijin beberapa hari dalam seminggu untuk bisa mengikuti kuliah. Membagi jadwal mengajar yang disesuaikan dengan jadwal kuliah saya. Dengan pengertian dari seluruh anggota Subpok Mandarin, akhirnya kuliah dan kerja dapat berjalan dengan baik.
Di kampus, beberapa kali saya harus minta ijin dan pengertian dari dosen untuk tidak masuk. Terutama saat menjalani pembekalan CPNS di mana saya harus ijin untuk absen selama dua bulan dan kemudian mengikuti Ujian Tengah susulan. Beberapa dosen bisa mengerti dan beberapa lainnya tidak yang kemudian memberikan saya nilai minimum karena banyaknya jumlah absen saya (hiks). Kemudian pada saat Latprajab juga saya harus meminta ijin untuk mengikuti Ujian Akhir mendahului mahasiswa lainnya. Semester berikutnya saya juga harus cuti kuliah karena mengikuti AAELC di Australia. Hehehe sungguh mahasiswa yang merepotkan. Untunglah sekarang semua sudah selesai.
Kesibukan mengajar di kantor, pindah rumah dan skripsi membuat blog saya menjadi tidak terurus. Semoga dengan selesainya urusan satu persatu dapat membuat blog ini hidup lagi. Semangat..!
Mengapa Cincin Kawin Ditaruh di Jari Manis?
Ikuti langkah berikut ini, Tuhan benar-benar membuat keajaiban (ini berasal dari kutipan Cina)
1.Pertama, tunjukkan telapak tangan anda, jari tengah ditekuk ke dalam (lihat gambar)
2.Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya.
3.Permainan dimulai , 5 pasang jari tetapi hanya 1 pasang yang tidak terpisahkan…
4.Cobalah membuka ibu jari anda, ibu jari mewakili orang tua, ibu jari bisa dibuka karena semua manusia mengalami sakit dan mati. Dengan demikian orang tua kita akan meninggalkan kita suatu hari nanti.
5.Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda, jari telunjuk mewakili kakak dan adik anda, mereke memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita.
6.sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak-anak. cepat atau lambat anak-anak juga akan meninggalkan kita.
7.selanjutnya, tutup jari kelingking anda, bukalah jari manis anda tempat dimana kita menaruh cincin perkawinan anda, anda akan heran karena jari tersebut tidak akan bisa dibuka. Karena jari manis mewakili suami dan istri, selama hidup anda dan pasangan anda akan terus melekat satu sama lain.
Benerkan??? Keren bangetttt……Kebetulan atau nggak, yang pasti ini benar-benar jadi inspirasi, so, berbahagialah yang sudah memiliki pasangan. Karena itu diambil dari tulang rusuk-mu yang berharga. Have A Nice Day!
sumber: http://www.robert-id.com/

















