10 Things About Me
Minggu ini lagi hari-hari sibuk bagi saya, diakhiri dengan penutupan KIB Mandarin tk. Menengah II TA.2008. Sedih juga harus berpisah dengan siswa-siswa yang sudah akrab dengan para instrukturnya. Di tengah kesibukan tiba-tiba mendapat pesan dari mas Zaenal (lebih dikenal dengan sebutan “pengendara”) bahwa saya mendapat PR untuk menuliskan 10 hal tentang saya…ok! saya terima PR nya, siapa takut??! hehehhe…
duluuuu waktu saya lahir rambut saya keriting banget, setelah dicukur, rambut yang tumbuh menjadi lurus! Namun ternyata lama kelamaan rambut saya keriting lagi sedikit demi sedikit, sehingga kemudian menjadi sangat keriting ketika saya dewasa hehehe…
karena bosan dengan rambut keriting, beberapa bulan lalu saya meluruskan rambut sehingga menjadi lurus seperti sekarang
lengkap kan penjelasannya???
2. PENDIAM tapi CEREWET
Saya biasanya akan diam di hadapan orang-orang yang baru saya kenal, yang tidak terlalu akrab, atau apabila berada dalam suatu kelompok orang. Tetapi saya bisa bercerita banyak terhadap orang-orang yang akrab dengan saya, terutama dengan mama sampai mama lelah mendengar cerita saya…hehehe..
3. RENDAH DIRI
Mungkin menjadi orang yang pendiam adalah efek dari rasa rendah diri yang saya miliki. Selalu memiliki niat untuk berubah tapi ternyata sulit banget. Tapi ya saya akan berubah. Sedikit demi sedikit.
Tips Merawat Bayi
Bulan-bulan terakhir ini banyak orang di sekitar saya yang baru saja memiliki bayi, antara lain: teh Emma, mbak Titi, Riyalat, dan kemudian akan segera disusul oleh bundo Febri. Oleh sebab itu saat ini saya akan memberikan tips untuk merawat bayi, hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan terhadap bayi. Semoga bermanfaat bagi kita semua
.
Bulan Puasa dan Disiplin Diri
Setengah dari bulan puasa tahun ini telah kita lalui. Berat badan saya juga sudah berkurang lima kilogram (padahal butuh waktu berbulan-bulan untuk menaikkannya, namun hanya perlu dua minggu untuk kembali ke titik awal hehehe). Turunnya berat badan mungkin disebabkan seringnya saya melewatkan waktu sahur, entah karena malas, tidak terbangun, atau karena tidak ada apapun untuk dimakan.
Bulan puasa kali ini saya lewati dalam kesendirian, di mana saya harus berusaha untuk mendisiplinkan diri. Ternyata sangat sulit untuk bersikap disiplin. Seringkali saya terbangun pada saat sahur hanya untuk mematikan alarm lalu kembali tidur dan tidak bangun sampai lewat adzan Shubuh atau sudah bangun namun tidak memiliki selera makan sehingga memutuskan untuk tidak sahur. Terkadang ada seorang sahabat yang berbaik hati menelepon dengan maksud membangunkan saya sahur. Bahkan pernah saya tertidur pada saat buka puasa, saya terbangun setengah jam kemudian setelah seorang sahabat membangunkan saya lewat telepon. Bulan puasa kali ini sungguh berat bagi saya. Rasa malas selalu datang menyerang dan menggoyahkan niat saya untuk bersikap disiplin.
Seorang sahabat yang telah berjasa dalam puasa saya kali ini menasehati saya untuk memupuk sikap disiplin dalam segala hal, contohnya seperti dalam bulan puasa. Kita harus mengusahakan untuk sahur dan buka puasa tepat pada waktunya. Jangan sampai melewatkan keduanya. Itu semua juga demi kesehatan kita. Dalam waktu di luar bulan puasa pun kita harus mendisiplinkan diri, seperti contohnya makanlah pada waktu makan yang normal. Usahakan makan pada waktunya, walaupun mungkin hanya dapat makan sedikit saja (misalnya karena sakit). Contoh lainnya juga adalah disiplin dalam waktu tidur. Jangan begadang untuk hal-hal yang tidak penting. Jaga selalu kesehatan dan jam tubuh (body clock) kita.
Itulah salah satu pelajaran yang saya dapat saya petik dari bulan puasa tahun ini. Pelajaran yang sangat berharga. Saya akan belajar untuk bisa mendisiplinkan diri, dimulai dari hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari, demi kesehatan dan kelangsungan hidup supaya dapat hidup dengan teratur. Terima kasih sahabatku..
Menikmati Hidup
Seorang teman menceritakan pengalamannya bertugas di hutan daerah terpencil di pulau Halmahera. Di sana hanya terdapat dua gubuk reot yang dihuni enam orang. Lokasinya di tengah hutan, sarana transportasi pun tidak ada. Benar-benar terasing dari dunia luar. Hidup orang-orang miskin itu sangat kekurangan, tetapi mereka terlihat bahagia dan menikmati hidup.
Mungkin di antara kita ada yang tidak pernah atau tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan sehari-hari orang-orang miskin itu. Yang saya maksud di sini adalah orang yang benar-benar miskin, bukan orang yang mengaku-ngaku miskin. Mengingat zaman sekarang banyak orang mengaku menjadi orang miskin. Hehehe..
Saya kemudian teringat dengan beberapa acara Reality Show di mana “Kehidupan Orang Miskin” sebagai center of excellent dari suatu acara. Salah satu program televisi “Jika Aku Menjadi” di Trans TV adalah salah satunya. Program ini merupakan program Reality Show yang menampilkan seorang anak kota yang ingin merasakan beberapa hari hidup bersama dengan orang miskin. Dalam acara ini terlihat banyak kebiasaan orang miskin itu yang tidak pernah dilakukan oleh anak kota tersebut. Kemudian, acara ini pun dilengkapi dengan acara tangis haru.
Acara ini bagus untuk anak-anak kota tersebut dalam belajar menghargai hidup. Di mana tidak semua orang dapat hidup seberuntung mereka. Di sekitar kita masih sangat banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun yang saya khawatirkan adalah, bagaimana dampak acara ini terhadap orang miskin itu?
Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Di satu sisi, hal ini bagus untuk memacu diri untuk dapat hidup lebih baik lagi. Namun di sisi lain, apabila perasaan tidak puas ini terlalu banyak dan berlebihan justru dapat mencelakakan diri sendiri. Selalu merasa kurang dan lama kelamaan dapat menimbulkan rasa iri hati.

















