Sehari Semalam di Semarang
Beberapa waktu yang lalu teman sekelas kursus yang sedang saya ikuti, Lettu Rendi, hendak menikah. Menikah di Semarang, hari sabtu malam. Kami beberapa teman sekelas menghadiri pernikahan tersebut. Karena tidak boleh ijin selama kursus maka kami berangkat Jumat malam dan berangkat kembali dari Semarang pada hari Minggu pagi. Di sini saya sertakan foto2nya…hehe (narsis-mode-on). Yang manakah saya? Yang pake baju merah dong
Berhubung keuangan kami tipis (maklumlah PNS hehe) kami naik kereta bisnis Senja Semarang. Berangkat Jumat malam sekitar pukul 7 (ga pasti soalnya ngaret), sampai di Semarang hari Sabtu pagi sekitar pukul 3.30. Kami dijemput oleh Rendi, calon pengantin pria (mengharukan ya) hehehe… Kami kemudian diantar ke penginapan yang sudah disiapkan oleh Rendi.
Sabtu pagi kami memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan. Pertama-tama sarapan di lesehan pinggir jalan Simpang Lima. Kemudian ke Kelenteng Sam Po Kong yang merupakan kunjungan pertama saya ke tempat ini. Lumayan lah bisa sedikit menghibur saya akan mimpi saya ke Cina yang belum kesampaian. Hehehee…. Tidak lupa saya minta diramal di sana. Tentang apa? Tentu saja tentang jodoh hehe…katanya…jodoh saya sudah dekat..o ow siapakah itu???
Dari Kelenteng kami menuju Lawang Sewu. Ditemani seorang guide kami berjalan berkeliling bangunan. Bangunan kuno yang tidak terawat dan terlihat cenderung angker. Lihat-lihat, foto-foto, tidak lupa membeli souvenir berupa kaos bertuliskan “Lawang Sewu”.
Tahun Baru, Kaleidoskop 2008 dan Resolusi 2009
Tiga hari sudah kita menjalani tahun 2009 ini. Tahun 2008 tinggal kenangan. Hmm apa saja yah yang sudah terjadi di kehidupan saya pada tahun 2008 dan apa resolusi saya pada tahun 2009?
Kaleidoskop 2008
Tahun 2008 saya baru mengenal blog. Kemudian membuat blog dan belajar menulis untuk mengisi blog. Hasilnya lumayan juga (paling tidak menurut saya
) Dengan blog ini saya juga mendapat penghargaan dari kantor dan beberapa penghargaan lainnya. Pada kesempatan ini saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Kabadiklat Dephan yang terus memberi semangat dan dukungan dalam kegiatan pembangunan dan pengisian blog ini. Hadiahnya lebih dari lumayan, tapi rasa bangganya jauh lebih besar. Hehehe.. Dengan kegiatan blogging ini saya juga menjadi kenal dengan beberapa blogger lain dan membaca pengalaman-pengalaman mereka yang dituangkan dalam blog mereka. Menarik sekali. Oh iya, berkat internet juga saya bisa menemukan saudara-saudara saya yang sebelumnya tidak saling kenal. Hingga saat ini kami masih menjalin kontak. Semoga suatu saat keluarga besar kami bisa berkumpul.
Dalam hal penampilan, tahun lalu juga pertama kalinya saya meluruskan rambut, mengubah image saya sebagai seorang gadis keriting menjadi berambut lurus (walaupun sekarang sudah mulai keriting lagi).
Dalam bidang akademik, pada tahun 2008 saya juga telah menyelesaikan pendidikan sarjana. Walaupun tergolong lambat karena banyak ditinggal cuti, tapi akhirnya terselesaikan tahun lalu dengan hasil yang lumayan bagus. Dalam kehidupan pribadi, saya pindah rumah. Beberapa bulan setelah pindah, saya masih mencoba bertahan di rumah lama, namun pertengahan desember 2008 saya memutuskan untuk benar-benar pindah dan tinggal bersama orang tua saya di rumah baru. penuh perjuangan memang karena saya harus berangkat kerja 40 menit lebih awal dari biasanya. Walaupun agak berat pada awalnya namun saya yakin kelak saya akan terbiasa.
Dalam soal cinta…ehhmm, tahun lalu saya mengalami jatuh cinta, pacaran bahkan putus kemudian jatuh cinta lagi. Semuanya lengkap terjadi di tahun 2008. Harapan yang sudah dirajut dalam-dalam harus buyar karena berbagai alasan. Tawa, kebahagiaan, kesedihan, dan air mata mewarnai kehidupan saya tahun lalu.
If Tomorrow Never Comes
Ronan Keating – If Tomorrow Never Comes.mp3![]()
Free Search Mp3 Code at www.codelagu.com
Lagu ini mengingatkan saya pada cinta pertama saya yang sepertinya tidak pernah tahu saya mencintainya. Saya mencintainya…hanya dalam hati…
Pertama kali saya merasakan cinta itu pada saat saya duduk di kelas 6 SD. Ya, dia teman sekelas saya. Dia anak yang pintar, supel dan humoris. Itulah yang membuat saya sangat kagum padanya. Hubungan kami dekat dan menjadi sahabat. Sering sekali dia mengganggu saya, dan saya senang dia ganggu
Dia sering sekali menelepon saya walaupun hanya untuk iseng. Seringkali karena kelamaan, saya sampai ketiduran mendengarkan dia bercerita tak karuan, kadang menyanyi atau kadang teleponnya ditinggal-tinggal kesana kemari. Ketika saya terbangun, teleponnya belum ditutup.
Saking seringnya dia menelepon saya seperti itu membuat orang tua saya marah karena mereka tidak bisa menggunakan telepon. Apalagi dia meninggalkan teleponnya begitu saja dalam keadaan menyambung ke telepon saya. Sampai suatu hari orang tua saya menunggu lama sekali sampai dia menutup telepon, karena teleponnya dia tinggal sehingga kami tidak bisa bicara padanya. Kemudian begitu dia tutup teleponnya, orang tua saya segera menelepon dia dan memarahinya. Sejak saat itu dia tidak pernah lagi menelepon saya. Sedih rasanya. Sejak saat itu hubungan kami mulai menjauh.
Kami melanjutkan sekolah di SMP yang sama. Selama 3 tahun bersekolah di sana kami tidak pernah satu kelas. Hubungan kami makin jauh dan bahkan kami tidak bertegur sapa apabila bertemu. Aku tidak tahu pasti apa yang menyebabkan hubungan kami menjadi seperti ini. Melihatnya dari jauh sudah cukup membuat saya bahagia. Pernah suatu kali saya memberi dia surat menanyakan ada apa dengan hubungan kami, kenapa menjadi seperti ini. Namun dia tidak pernah membalasnya.
Naik Taxi
Pada suatu Sabtu malam saya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di Depok bersama seorang teman perempuan. Kami berniat menonton film di bioskop namun karena waktu itu sudah sekitar pukul delapan malam maka kami memutuskan untuk menonton film yang terakhir yakni pukul 21.25.
Film selesai sekitar pukul 23.30. Kami pulang naik Taxi, menuju rumah saya karena teman saya memutuskan untuk menginap di rumah. Kami menyetop sebuah Taxi yang cukup terkenal, berwarna kuning. Namun ada beberapa kejanggalan yang terjadi selama perjalanan.
Kejanggalan pertama, jendela supir dan jendela di sebelahnya dibiarkan terbuka. Kami maklum kalau pada saat tidak ada penumpang jendela terbuka mungkin sang supir ingin menghirup udara luar. Kemudian saya tanya pada supir, “pak jendelanya tolong ditutup dong”. Namun sang supir tidak mengacuhkan saya. Saya pikir mungkin dia tidak mendengar karena lalu lintas memang masih tergolong ramai walaupun tengah malam. Kemudian saya mengulangi pertanyaan saya, sang supir masih diam saja. Kemudian saya tepuk pundaknya dan kembali memintanya menutup jendela. Akhirnya dia meminggirkan mobilnya dan menutup jendelanya. Entah kenapa, suasana menjadi mencekam. Saya dan teman saya berusaha santai dan mengobrol untuk mencairkan ketegangan.
Kejanggalan kedua, dalam perjalanan, saya baru menyadari bahwa kedua pintu belakang tidak ada tombol kunci. Setahu saya walaupun kunci pintu dilakukan secara otomatis, namun bukankah harusnya tombolnya tetap ada? Entahlah saya tidak berani menanyakannya.
Untunglah rumah saya tidak jauh. Sehingga hanya dalam waktu kurang lebih setengah jam kami telah sampai. Waktu telah menunjukkan pukul 00.30. Kejanggalan ketiga pun terjadi. Ketika taxi berhenti, kami berusaha membuka pintu namun tidak berhasil. Sang supir diam saja di depan tidak menoleh. Kami yang panik segera bilang ke supir, “pak kok pintunya nggak bisa dibuka?” Sang supir menjawab (juga tanpa menoleh), “memang pintunya harus dibuka dari luar”. Kemudian dia keluar dan membukakan pintu untuk kami.
Segera kami keluar dan meninggalkan taxi itu. Mana taxi itu juga tidak segera pergi. Mengerikan. Namun kami masih bersyukur tidak ada hal buruk terjadi pada kami. Kami berpikir, mungkin karena kami berdua. Bagaimana kalau saya atau teman saya itu naik taxi sendiri? hiyy…besok-besok kalau naik taxi memang sebaiknya kita cek dulu pintu, kunci dan jendelanya. Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Award
Baru saja saya menghirup udara kebebasan karena mulai Senin besok bisa cuti yeeaahh…langsung melihat-lihat blog. Blog siapa? Tentu saja blog saya sendiri yang sudah lama saya tinggalkan sehingga sudah tidak terurus lagi. Tiba-tiba komen terakhir mengejutkan saya, saya dapat Award sekaligus PR (lagi). Kali ini dari pak Octa, sesepuh saya hehehe…walaupun saya bingung sebenarnya award apakah ini kok nggak ada hadiahnya?
Pak Octa, memerintahkan saya untuk:
1. Take a recent photo of yourself OR take a picture of yourself RIGHT NOW
2. DON’T change your cloth. DON’T fix your hair, just take a picture
3. Post that picture with NO editing
4. Post this instruction with your picture
5. Tag 10 people to do this
Hmm, berat juga nih perintahnya. Tapi…siap! Laksanakan pak! Pak Octa, diharapkan juga memberi komentar pada foto saya di atas. Bagaimana? Apakah terlihat alami? Itu motretnya pakai webcam loh benar-benar baru saja…
Apakah tetap cantik walaupun dadakan? Aduh kalau memang dasarnya cantik mau kapanpun di manapun tetap aja cantik (narsis mode on). Tapi saya minta maaf karena saya nggak bisa melaksanakan perintah yang ke-5 soalnya bingung mau memberi PR ke siapa. Mohon maaf dan terima kasih pak Octa…
Ada Apa Dengan Saya?
Sudah lama sekali saya tidak mengurus blog saya ini. Sudah lama juga tidak berkunjung ke blog-blog lain. Apa sebabnya? Selain karena saya habis sakit sampai menyebabkan tiga hari tidak masuk kantor, laptop juga baru sembuh setelah motherboard-nya terbakar yang menyebabkan saya harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk biaya servis hiks hiks..
Di kantor juga agak sibuk, setelah mengikuti seminar “Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pendidikan” yang dilanjutkan dengan workshop selama kurang lebih 4 hari (cerita tentang seminar dan workshop dapat dilihat di blog rekan kerja saya di sini), saya juga berpartisipasi dalam lomba membuat Weblog Koprs Pegawai Negeri Sipil Departemen Pertahanan (Korpri Dephan) dalam rangka memperingati HUT ke-37 Korpri yang diselenggarakan pada hari Senin tanggal 24 November 2008 bertempat di Laboratorium Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Departemen Pertahanan Pondok Labu, Jakarta. Alhamdulillah, saya mendapat juara ke-3 dan mendapat 1 unit komputer sebagai hadiahnya
Berita mengenai lomba Web Blog tersebut dapat dilihat di sini.
Sekian dulu berita terbaru dari saya. Kapan-kapan disambung lagi karena saya masih dalam tahap penyembuhan. Sampai jumpa…!
Nama Panggilanku : Enno
Retno Damayanthi adalah nama lengkap saya. Karena saya anak bungsu, waktu saya kecil keluarga memanggil saya dengan sebutan De’No yang berarti adik Retno. Namun nama ini disalah-ucapkan oleh tetangga2 saya. Sebagian besar mereka memanggil saya dengan sebutan Denok. Beberapa kali keluarga saya mencoba membetulkan sebutan para tetangga namun sangat sulit. Hanya ada segelintir tetangga yang menyebut saya dengan sebutan yang benar.
Ada lagi yang bikin ketawa kalo inget, teman main saya yang rumahnya di belakang rumah menyebut saya dengan sebutan Endok (telor kali yaaa). Ya ampun. Mungkin maksudnya mau menyebut Denok eh malah jadi Endok. Yang lebih parah lagi teman saya yang lain malah menyebut saya Donat. Ampuuunn…!
Tahun demi tahun berlalu, saya beranjak besar, memiliki tetangga yang kecil-kecil. Lalu bagaimana mereka menyebut saya? Hoho mereka menyebut saya dengan sebutan mbak Denok atau mbak De’No. Aduhh makin salah kaprah nih. Adik kecil teman saya malah menyebut dengan Baleno (cadel gitu loohh). Makin lama saya sudah terbiasa dengan sebutan-sebutan ini. Di sekolah dan di kantor, saya beken dengan nama Enno. Tidak bermaksud mendompleng kesuksesan Enno Lerian tapi kalo ternyata iya saya mohon maklum hehehe… kebetulan saya anak yang kalem dan tidak neko-neko sehingga saya tidak memiliki nama julukan yang nyeleneh.
Kalau sepupu-sepupu saya yang lebih muda menyebut saya Mbak No dan sepupu yang lebih tua memanggil De’No. Lalu bagaimana dengan keponakan-keponakan saya? Karena keponakan saya yang pertama selalu memanggil saya dengan sebutan Anno (maksudnya mau bilang tante Enno tapi malah Anno saja yang disebut-sebut), sehingga nama Anno telah resmi menjadi nama panggilan saya oleh semua keponakan saya. Anno berarti tante Enno sehingga tidak perlu lagi embel-embel tante di depannya.
Bagaimana dengan anda? ada cerita dibalik nama panggilan atau nama beken?
Picaulima Family
Ada kejadian dalam beberapa hari ini yang hendak saya ceritakan. Beberapa hari yang lalu saya menerima email dari rekan sejawat yang sedang bertugas di Australia. Email itu ditujukan untuk beberapa orang. Namun, mata saya menangkap sesuatu yang menarik. Urutan pertama dari penerima email itu memiliki nama marga yang sama dengan ayah saya, yakni Andy F. Picaulima (karena sesuatu hal di masa lalu, ayah saya tidak menambahkan nama marga tersebut di akhir nama anak-anaknya). Nama depannya sama dengan nama sepupu saya yang kebetulan pernah dinas di Australia pada tahun 2007. Langsung saja saya mengirim email padanya dan menanyakan apakah ia saudara saya itu.
Saya mendapat balasan email keesokan harinya. Ternyata bukan. Namun ia sangat ramah dan memberikan saya alamat web my heritage yang berisi silsilah keluarga Picaulima-nya. Kebetulan ketika saya sedang melihat-lihat silsilah itu, ibu saya menelepon, kemudian ibu mengatakan bahwa selain keturunan Opa, ada juga keluarga Picaulima yang disebut om Nan Picaulima. Sedangkan di silsilah itu ada yang disebut sebagai Opa Nan (Ferdinand Picaulima). Wah mungkin saja itu orang yang sama.
Segera saya tanyakan lagi apakah opa Nan yang itu? Apakah kenal dengan opa saya (Max Simon Picaulima)? Saya sebutkan juga nama tante2 dan om saya. Rasanya saya kok jadi bersemangat yah, seperti menemukan saudara yang hilang. Ia juga bilang, selama namanya Picaulima, jauh dekat tarif sama, tetap saudara!! Hahaha senang sekali mendengarnya.
Kenapa saya begitu senang? Soalnya selama ini saya nggak pernah ketemu sama orang bermarga Picaulima selain saudara2 saya. Nama Picaulima juga tidak dikenal orang. Banyak orang tahunya hanya nama Pesolima karena Broery Pesolima kan terkenal. Banyak orang juga menganggap Picaulima dan Pesolima sama aja. Hahaha itu berbeda saudara-saudara…..hayoooooo kalau ada saudara saya yang lain yang baca blog ini, hubungi saya ya…
nb: kabar terbaru….waktu itu mas Andy menyarankan saya untuk ikutan facebook karena banyak Picaulima punya account di sana. Ternyata benar. Saya mengenal mas Rens (Erenstino Picaulima) dan juga Windy Picaulima di facebook. Yang lebih menggembirakan, ternyata kami semua saudara. Berikut kutipan message mas Rens kepada saya di Facebook :
“Hai Enno, (udah baca suratku belum yg tgl 2 nov?).
Kamu bisa bikin blog bagus, koq Fb ini aja udah binun….
Papa kamu, o.Henky, t.Vivie tuh sepupuan sama papaku.jadi kita ini (juga Andy) tuh sepupuan. ngga usah panggil ‘pak’ ama dia ![]()
Ngga tau deh kalo ketemu di Dephan he…he…
btw nice fotos !”
lalu bagaimana dengan Windy? ternyata papanya windy sepupunya mas rens, jadi windy termasuk ponakan saya..senang sekali ketemu saudara!!
Happy Birthday to Me
Today is my birthday
I think I’ll make a cake
Mix and stir, stir and mix
Then into the oven to bake.
Here’s the cake so nice and round,
I’ll put icing on so white.
I’ll put on all the candles
To make my birthday bright!
Otak-otak Pembawa Derita
Pada hari Lebaran ke-2 (02/10/2008) pagi, saya berinisiatif menggoreng otak-otak goreng yang saya beli di supermarket. Kurangnya pengalaman dalam hal goreng menggoreng membuat saya tertimpa musibah. Otak-otak yang saya goreng meletus…dhuuaarr….minyak di wajan muncrat (eh ini bahasa Indonesia apa bukan ya?) mengenai wajah dan tangan saya. Menimbulkan bercak-bercak merah di wajah dan tangan (sekarang bercak-bercaknya sudah menjadi hitam seperti tompel). Kakak saya yang melihat kejadian itu bukannya bersimpati malah marah-marah dan menyalahkan cara menggoreng saya yang tidak benar (sebel!).
Katanya “…menggoreng otak-otak itu wajannya harus besar, apinya besar, lalu wajannya ditutup, otak-otaknya harus disayat-sayat dulu….dsb”. Singkat cerita, setelah ibu saya ikut terkena cipratan minyak, akhirnya kakak menggantikan menggoreng otak-otak tersebut (karena saya dan ibu sudah tidak mau menggoreng lagi). Ternyata setelah menggoreng dengan benar (menurutnya), ketika kakak membuka tutup wajan…dhuaarr….otak-otaknya meledak lagi. Memang selama dalam peggorengan otak-otak itu meledak-ledak terus, bunyinya seperti membuat popcorn. Ledakan otak-otak yang terakhir sangat dahsyat. Wajah kakak saya terkena minyak di banyak tempat (jauh lebih parah dari saya).
Setelah acara menggoreng otak-otak selesai, kami kemudian memakan otak-otak tersebut. Mengingat perjuangan berat dan derita yang kami alami membuat saya sangat menikmati otak-otak itu sehingga saya makan dalam jumlah yang banyak.
Esoknya saya merasakan ada yang aneh dengan wajah saya. Saya merasakan gatal, termasuk di bekas luka bakar minyak itu. Saya pikir, mungkin ini pertanda lukanya akan segera sembuh. Memang benar, walaupun beberapa titik luka masih ada sampai sekarang namun beberapa luka mengering dan lepas berganti kulit yang baru. Anehnya bibir saya tetap terasa sangat gatal, kering dan mulai timbul bintil bintil. Ketika bangun pagi hari, mata juga terlihat sembap karena kelopak mata membengkak dan terasa agak panas. Hari berganti hari, bukannya sembuh, bibir malah terasa sangat gatal dan bintil-bintil malah bertambah banyak dan membesar.
Akhirnya sore tadi sepulang kantor saya menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan diri. Ternyata diagnosa dokter menyatakan saya alergi terhadap otak-otak! Memang saya pernah mengalami alergi terhadap sea food dan ikan air tawar tetapi biasanya reaksi alerginya tidak seperti ini sehingga saya tidak mengenali tanda-tanda alergi kali ini. Dokter memberi saya suntikan dan dua macam obat yang harus saya minum, dan berpesan agar saya tidak lagi memakan otak-otak. Saya juga dilarang untuk menggunakan lipstick dulu sampai bibir saya kembali normal.
Tentu saja, nggak mau lagi makan otak-otak!
Tapi…..kalo nggak boleh pakai lipstick….seperti sayur tanpa garam… hiks hiks hiks.
















