Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Belajar Bahasa Mandarin

Pada masa SMA, tidak pernah terpikir dalam benak saya untuk belajar bahasa Mandarin. Ketika lulus SMA, saya masih bingung untuk memilih jurusan apa yang harus saya ambil. Kemudian saya memutuskan untuk mengambil jurusan Bahasa Cina, dengan alasan yang sangat sederhana, “saya tertarik dengan Hanzi (karakter bahasa Mandarin)”. Menurut saya Hanzi sangat misterius. Tidak semua orang bisa membacanya. Orang awam yang tidak mengenal bahasa Mandarin dan Hanzi khususnya, tidak akan bisa mengerti bahkan mengucapkan sebuah teks yang ditulis dalam Hanzi.

Dengan berbekal alasan sederhana ini, masuklah saya di program D3 bahasa Cina UI angkatan 2000. Kesan pertama saya belajar bahasa Mandarin: Ya Allah, bahasa Mandarin sulit sekali. Ada pinyin, nada dan hanzi yang harus dihafal.

Hari pertama saya kuliah sudah membuat saya shock. Pada saat itu karena sakit, saya tidak dapat mengikuti penataran atau pengenalan kampus. Saya langsung masuk kelas di hari ke-2, tanpa mengenal satupun teman sekelas. Jam pelajaran pertama diisi oleh ibu Poedji dosen bahasa Mandarin yang terkenal paling galak. Hari pertama saya kuliah sudah dimarahi beliau, karena hanya saya yang belum bisa membaca pinyin. Ya ampun, lihat pinyin saja baru saat itu. Sakit sekali hati saya ketika dimarahi. Saya juga dimarahi karena memakai sandal ke kelas. Padahal di kelas lain, boleh memakai sandal. Saya tidak tahu kalau beliau melarang mahasiswa memakai sandal ke kelasnya.

Setelah kuliah, ada acara kumpul2 dengan senior. Stress saya bertambah, saya tidak kenal satupun dari senior-senior dan teman-teman sekelas saya, sedangkan mereka terlihat sudah sangat akrab. Diomeli guru, diomeli senior, merasa sendirian, membuat saya sangat tertekan. Tak tahan, saya menangis dalam perjalanan pulang ke rumah. Padahal saya naik angkot, tapi saya tidak peduli tatapan orang-orang di angkot yang melihat saya menangis.

Pada saat itu saya merasa kapok dan tidak ingin kuliah lagi. Namun pengorbanan orang tua untuk membiayai kuliah memberi saya kekuatan untuk tetap kuliah. Hari demi hari berlalu, akhirnya hari-hari sulit terlewati. Saya bisa menyesuaikan dengan teman-teman dalam mengikuti pelajaran. Walaupun kuliahnya berat, tetapi saya bisa lalui dengan baik.

Pada semester ketiga, rasa jenuh mulai datang. Nilai-nilai saya mulai turun, pelan tapi pasti. Saya akhirnya mendapat nilai C untuk kuliah bahasa Cina III. Jenuh, capek, bosan semua jadi satu. Melihat Hanzi membuat kepala saya pusing. Saya sempat berniat untuk pindah jurusan. Tidak mau lagi belajar bahasa Mandarin. Saya merasa sudah sangat buntu. Orang tua saya menyarankan agar saya tetap melanjutkan kuliah, mengingat biaya dan waktu yang sudah terpakai. Sayang sekali kalau harus berhenti begitu saja. Mereka juga menyemangati saya untuk terus berusaha, kalau ternyata hasil nilai semester IV tidak ada perubahan, maka apa boleh buat. Mereka akan mengijinkan saya untuk pindah jurusan kuliah.

Ijin dan pengertian dari orang tua membuat saya semangat lagi. Tak disangka, saya malah mendapat nilai A untuk bahasa Cina IV. Tentu saja hal ini membuat saya semangat lagi untuk menyelesaikan kuliah saya. Pada tahun 2003, akhirnya saya diwisuda. Bersama beberapa teman seangkatan yang tersisa (banyak teman-teman seangkatan yang berguguran di program studi bahasa Cina, entah karena stress atau DO). Senang sekali akhirnya bisa lulus. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada ibu Poedji, justru karena kegalakan beliau memacu saya untuk rajin kuliah supaya tidak dimarahi. Terima kasih juga kepada ibu Nurni (guru favorit saya, yang menurut teman-teman saya juga galak), karena ibu Nurni dapat membuat mata kuliah Cina Pers yang menakutkan menjadi ‘agak’ menyenangkan. Hidup guru galak..! Karena kegalakkan mereka, memacu kita untuk menjadi lebih rajin dan pintar. Hehehe

April 17, 2008 - Posted by | Pengalaman Pribadi

14 Comments »

  1. Waaaah…,
    ini juga menjadi kesaksian yang indah, bahwa kegalakan menghasilkan prestasi yang baik bagi orang lain. Apakah akan menjadi seperti ini bila ibu guru Nurni seorang ibu guru yang lemah lembut?
    Tentu dibutuhkan ibu-ibu guru yang galak seperti beliau di Indonesia ini supaya lahir generasi yang pintar.
    Sukses selanjutnya ya.

    Comment by Tante Tut | April 26, 2008 | Reply

  2. Setujuu..

    Comment by Retno Damayanthi | April 26, 2008 | Reply

  3. yaaap ..bahsa mandarin emng bkin pusing 7keliling…huufff
    saya juga pernah sempet stress hoho

    sekarng udah kerja dmn??

    bingung nih nanti lulus kuliah bahsa mandrin mau kerja dmn?

    Comment by megan | November 4, 2008 | Reply

  4. hai…saya dari Malaysia. Boleh berkenalan tak? Saya orang Melayu yang menetap di Malaysia dan berminat tentang adat serta budaya cina termasuk bahasanya sekali.saya mahir bertutur bahasa cina tapi tak boleh menulis lah…hahaha….jom kunjungi blog saya dan kita bertukar-tukar pandangan. http://www.britneyspears1717.blogspot.com

    Comment by faez | December 12, 2008 | Reply

  5. Shengdiao he pinyin yiyang bu rongyi, hanzi geng bu rongyi, hao bu hao?

    Comment by Randy | July 18, 2009 | Reply

  6. mampir & salam kenal ya ret.
    D3 sastra cina ui? hm.. kenal chandra (cacan-cewe) ga?

    sayah juga suka belajar mandarin tapi sekarang ga sempet lagih :((

    Comment by quinie | July 25, 2009 | Reply

  7. hebat..hebat.. saya sudah berbulan2 belajar mandarin (memaksakan diri utk mencintai bahasa sulit ini..) tp tetepppp..bingung dengan susunan kalimatnya yang membingungkan😀
    pada dasarnya saya sangat suka bahasa, terutama inggris sejak SMP, tp kemudian saya berpikir kalo inggris saja tidaklah cukup..perlu bahasa tambahan.. hehehe..😉

    Comment by gessi | July 26, 2009 | Reply

  8. mank bahasa mandarin ni sangat memusigkan!!!

    jdi skramg kerja dmn??

    Comment by eirene | October 8, 2009 | Reply

  9. Dear Friends,

    Sesiapa yang ingin belajar bahasa mandarin (basic)di johor bahru, Malaysia, sila menulis email kepada saya. Ribuan terima kasih!
    Email add: limyulik@hotmail.com

    “If you think you can, you can!”

    Comment by Elson Lim | November 3, 2009 | Reply

  10. Sy (Angk ’81) jg sempat semaput belajar hanzi, tp dibalik kegalakan bu puji dan kelembutan bu anita, akhirnya sy bs guru mandarin di SMAN 4 Kota Bengkulu, padahal sy ngajar STAIN Bengkulu. Murid sy skrg ada di Fujian Normal University, laoshinya kalah.. saat ini sy sdh mutasi ke UIN Jkt, dan lg disuruh bikin prodi.. Doain ya! Retno siap bantuin saya?

    Comment by M. Suprayogi | February 19, 2010 | Reply

  11. saya pertama kali belajar mandarin dulu juga karena mencintai hanzi. hurufnya yang menarik dan indah membuatku jatuh cinta. hehehehe….(alasannya juga sama)
    sampai sekarang pun saya masih belajar mandarin, menurutku tak ada selesainya. karena susunan katanya cukup membingungkan. sekarang lebih banyak belajar ke grammarnya, walaupun semua teman saya berkata buat apa belajar grammarnya. karena klu ngmng msh kacau. hehehe….
    buat teman-teman yang mau belajar juga silakan. kita saling bertukar ilmu. ok
    天天向上,努力学习

    Comment by 阿沛 | June 22, 2010 | Reply

    • 对,每天要更上一城楼,,,大家加油!!^_^

      Comment by suxi | July 19, 2011 | Reply

  12. 你在哪里工作?

    Comment by rinny dwie | April 28, 2012 | Reply

  13. Bu retno, tau tempat belajar bahasa mandarin di bengkulu gak? mohon infonya

    Comment by Rama | May 28, 2013 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: