Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Menjadi Guru

Sejak kecil, saya memiliki sifat pemalu dan pendiam. Saya tidak banyak bicara terutama dengan orang yang tidak saya kenal dekat. Saya juga tidak terbiasa bicara di dalam forum atau di depan banyak orang. Kondisi ini membuat saya tidak pernah bercita-cita menjadi guru atau profesi-profesi lain yang mengharuskan saya untuk berbicara di depan umum.

Pada tahun 2004, nasib membawa saya ke Pondok Labu untuk bekerja sebagai guru honorer di Pusdiklat Bahasa Badiklat Dephan. Pada saat itu saya berpikir, saya akan mencoba pekerjaan apapun karena semua pekerjaan adalah hal baru buat saya. Semua hal pasti ada awalnya. Sehingga saya bertekad memberanikan diri untuk menjadi pengajar.

Pada hari pertama mengajar di Pusdiklat Bahasa, jantung saya berdetak keras sekali. Saya takut karena itu akan menjadi pengalaman pertama saya mengajar di kelas. Hal yang membuat saya semakin takut adalah siswanya semua dari militer. Semua lebih tua dari saya. Rasanya saya ingin lari saja.

Akhirnya saat itu datang juga, saya berada di depan kelas KIBA Mandarin XXVI. Kelas pertama saya. Hal pertama yang saya lakukan adalah memperkenalkan diri, tegang sekali. Saya tidak tahu apa warna wajah saya saat itu. Selesai memperkenalkan diri, saya meminta para siswa memperkenalkan diri mereka satu persatu. Karena begitu tegang, saya tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan. Pikiran saya sibuk menghitung waktu yang terasa berjalan sangat lambat. Untunglah saya dapat membaca nama siswa dari papan nama yang terpasang di seragam mereka sehingga saya tidak salah memanggil.

Hari-hari berlalu, ketegangan saya berkurang. Saya mulai mengenal siswa-siswa saya secara lebih mendalam. Saya bisa berbicara tanpa grogi lagi di depan mereka dan saya juga sudah bisa bercanda dengan mereka. Untunglah siswa-siswa semuanya baik. Semua tahu kalau saya adalah guru baru. Mereka banyak memberi masukan dan saran agar saya dapat memperbaiki diri. Dukungan mereka sangat berarti untuk saya.

Memang, sampai saat ini pun saya masih memiliki banyak kekurangan. Namun saya akan terus berusaha memperbaiki diri agar dapat diterima oleh siswa. Seorang siswa mengatakan, saya terlalu lemah sehingga siswa dapat berbuat semaunya. Namun siswa lainnya justru mengatakan saya terlalu galak dan kurang mengerti mau siswa. Pertama-tama saya sedih dan bingung menghadapi kritik itu. Namun seiring waktu berjalan, semua kritik saya terima dengan hati besar. Saya tahu saya tidak akan bisa menjadi seperti yang diinginkan semua orang, tapi saya akan terus berusaha untuk menjadi lebih baik.

Menjadi seorang guru, ternyata sulit. Dulu saya hanya bisa mengkritik guru ini begini, guru itu begitu. Saat ini saya menyadari memang profesi ini tidak mudah, terutama untuk saya. Saya tetap mengharapkan masukan, kritik dan saran dari para siswa untuk membuat saya menjadi lebih baik lagi. Saya beruntung karena memiliki siswa-siswa yang sudah dewasa, yang dapat diajak berdiskusi mengenai banyak hal. Terima kasih siswa-siswaku..

April 17, 2008 - Posted by | Pengalaman Pribadi

8 Comments »

  1. Haloo Enno, memang sesuatu itu kalau belum terbiasa akan sulit sekali. Namun kalau sudah terbiasa, akan lancar, gampang, dan tinggal mengolah diri, supaya tetap disenangi.

    Nah kalau hal ini sudah dapat dijalani, berarti enno sudah mulai sukses pada profesi yang saat ini sedang ditekuni.

    Semoga bermanfaat.

    Amin

    Comment by pa yo | April 21, 2008 | Reply

  2. Amin. Makasih comment dan nasihatnya pa yo..

    Comment by Retno Damayanthi | April 21, 2008 | Reply

  3. oh, enno, dirimu sangat2 pemalu…(dulu) tp sekarang mungkin malu maluin. heeheheheheh. tp dikau telah berhasil menjadi seorang laotse yang baik, rajin, dan tidak sombong. selamat anda mendapat bintang.
    semoga….dirimu menjadi seorang yg berguna….bagi nusa dan bangsa.

    Comment by yubithea | April 24, 2008 | Reply

  4. Spasiba gespaza Tuti, selamat juga dikau telah menjadi guru yang baik. Semoga kita berdua bisa lebih baik. Hehehe.. “Bersama kita bisa” (eh ga nyambung ya?);-)

    Comment by Retno Damayanthi | April 24, 2008 | Reply

  5. Wah, luar biasa!
    Retno mampu melawan dan mengalahkan sifat pemalu justru dengan mengajar didepan orang-orang dewasa yang notabene militer lagi.
    Yang pasti bukan masalah pemalunya, tapi kwalitet pengajarannya yang membuat kecanggungan dalam mengajar teratasi. Kelebihan ini yang harus Retno sadari dan tekankan, dan dari sini Retno akan lebih mampu mengatasi rasa pemalu yang berlebihan.
    Tentu sekarang situasi mengajar sudah menjadi relax, toch?
    Goed zo, Enno! Je hebt heel… heel best gedaan. Petje af!
    Groet.

    Comment by Tante Tut | April 26, 2008 | Reply

  6. Heel bedankt. Groetjes tante..😀

    Comment by Retno Damayanthi | April 26, 2008 | Reply

  7. 老 师, 我 很 喜 欢 看 您 的 blog. 很 好 看。 恭 喜 你 啦 。

    Comment by wayan sumariana | May 15, 2008 | Reply

  8. Wayan 先 生,谢 谢 你 的 comment。我 希 望 你 常 常 看 我 的 blog,然 后 再 给 我 comment。谢 谢。

    Comment by Retno Damayanthi | May 15, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: