Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Menang Lomba Blog

Hari ini tanggal 29 Mei 2008 saya mendapat hadiah istimewa. Blog saya menjadi juara pertama lomba blog di Badiklat Dephan dalam rangka memperingati “Satu Abad Hari Kebangkitan Nasional” tahun 2008. Senang sekali. Pada kesempatan ini saya ingin berterima kasih sebanyak-banyak nya kepada KaBadiklat Dephan yang telah menyelenggarakan lomba blog ini. Terus terang saja, lomba blog ini menambah semangat saya dalam meng-update blog. Terima kasih juga kepada seluruh pengunjung blog dan semua orang yang telah mendukung saya dalam pembuatan blog. Blog saya tidak akan menarik tanpa kunjungan dan komentar dari Anda semua. Terima kasih.

May 29, 2008 Posted by | Pengalaman Pribadi | 16 Comments

Curi Waktu Tingkatkan Potensi

Rutinitas kerja membuat Anda merasa tidak punya waktu untuk meningkatkan diri? Wah, jangan pesimis dulu. Banyak lho hal yang bisa Anda lakukan. Bahkan tanpa perlu meninggalkan meja kerja.

Sebagian besar waktu Anda habis di kantor dengan pekerjaan yang menuntut Anda berkutat di depan layar komputer. Padahal, semakin ke sini kok rasanya ilmu hanya di situ-situ saja ya? Jalan di tempat. Tapi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi juga rasanya tidak mungkin, karena waktu yang dimiliki sangat terbatas.

Sebenarnya banyak lho aktivitas yang bisa kita lakukan melalui komputer, dari sekedar chatting hingga kuliah di Universitas bergengsi.

OPTIMALKAN FITUR

Dari sekian banyak program yang tersedia di komputer Anda, coba ingat, mana saja yang Anda optimalkan penggunaannya? Katakanlah Word atau Excel. Banyak yang hanya puas menguasai fitur standarnya. Padahal banyak fitur yang bisa memudahkan pekerjaan Anda . Atau Anda bisa mempelajari program baru, misalnya program untuk membuat presentasi, organizing database, bahkan mempelajari program yang tak ada kaitannya dengan pekerjaan. Misalnya mempelajari program editing foto, film, apapun yang Anda suka.

BAHASA ASING

Menggunakan fasilitas seperti YM atau meebo mungkin kerap Anda lakukan. Tapi jangan berhenti di ‘ngobrol’ saja. Anda bisa memanfaatkannya untuk mempelajari bahasa asing. Misalnya cari teman dari negara lain, pelajari bahasanya dan sering-seringlah berkomunikasi agar kemampuan bahasa asing Anda ter-upgrade. Dengan cara ini, kemampuan berbahasa Anda akan terlatih. Lagipula, kalau Anda salah pengucapan, Anda tak perlu malu ditertawakan orang lain kan? Selain chatting, Anda bisa belajar bahasa melalui kursus online misalnya di situs free seperti http://increasevocabulary.net atau melatih grammar Inggris Anda di http://netgrammar.altec.org.

Continue reading

May 27, 2008 Posted by | Dunia Kerja | 12 Comments

Mengapa Menulis Itu Sulit?

Saya adalah orang baru dalam dunia per-blog-an. Saya tidak terbiasa dengan tulis menulis atau membuat karangan. Biasanya saya menulis hanya jika ada tugas. Itupun tidak banyak. Tugas mengarang dalam pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Sunda (karena tinggal di Depok, maka saya mendapat pelajaran bahasa Sunda), bahasa Inggris ataupun bahasa Mandarin, seringkali temanya ditentukan, sehingga saya terbiasa menulis karena “disuruh”.

Sebenarnya waktu SD saya pernah menulis sebuah cerita panjang, menggambarkan kehidupan idaman dalam imajinasi saya. Saya tulis setiap hari dengan tulisan tangan, karena pada saat itu belum punya komputer dan malas menggunakan mesin ketik. Panjang cerita itu kira-kira 32 halaman (bolak balik), tepat menghabiskan jumlah kertas dalam sebuah buku tulis. Sayangnya buku itu sekarang hilang. Padahal saya pernah menyimpannya sampai beberapa tahun. Terakhir saya membacanya, saya tertawa sendiri, karena bahasa dan cerita yang saya tulis sangat sangat norak dan tidak realistis.

Kalau saya ingat-ingat, pelajaran menulis atau mengarang di tingkat sekolah dasar dan menengah sangatlah kurang. Sebenarnya kunci utama untuk bisa menulis adalah membaca. Semakin banyak kita membaca maka akan semakin banyak juga pengetahuan yang kita dapat. Namun ketika sekolah dulu, saya hanya dihadapkan dengan buku-buku pelajaran dan buku-buku teori yang harus dihafal. Tidak ada kesempatan untuk membaca cerita-cerita pendek ataupun karya-karya sastra. Beruntung pada waktu SD dulu, orangtua saya berlangganan majalah “Bobo” sehingga membantu menciptakan imajinasi-imajinasi mengenai banyak hal dalam pikiran saya.

Ketika SMP dan SMU, saya tidak lagi berlangganan majalah. Saya juga tidak punya waktu membaca buku-buku di luar buku pelajaran. Kadang-kadang membaca majalah remaja untuk refreshing, tapi bukan untuk mengasah otak untuk menulis. Jumlah buku pelajaran masa sekolah menengah sangatlah banyak dan kami diharuskan untuk menghafalnya. Sampai-sampai saya muak melihat buku-buku itu (untunglah sekarang saya sudah terbebas dari beban itu..hehe..).

Continue reading

May 24, 2008 Posted by | Opini | 15 Comments

Western Vs Eastern

Beberapa waktu lalu saya mendapat email yang menggambarkan perbedaan Western (Barat) dan Eastern (Timur). Ini sangat menarik dan ada benarnya juga, sehingga saya memutuskan untuk memuatnya di blog ini. Silakan anda lihat and tell me what you think..

Western : digambarkan warna biru (W)

Eastern : digambarkan warna merah (E)

WAY OF SPEAKING

W: bicara langsung ke pokok permasalahan (to the point).

E: bicara muter-muter dulu, apalagi kalo opininya berbeda paham.

Continue reading

May 18, 2008 Posted by | Selingan | 33 Comments

KEBAHAGIAAN

May 16, 2008 Posted by | Mutiara Kata | 12 Comments

Kebangkitan Nasional

Sebentar lagi kita akan memperingati HARKITNAS (Hari Kebangkitan Nasional) yang ke-100. Apakah bangsa kita sudah benar-benar bangkit? Bangkit macam apa yang diinginkan bangsa ini?

Pada saat saya sekolah dulu, saya ingat ada pelajaran yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia terkenal baik dan ramah. Hal itu membuat saya bangga. Ketika menonton film barat dan melihat adegan kekerasan, dalam hati saya mengatakan, Indonesia tidak seperti itu. Indonesia adalah negara yang aman dan tenteram dan rakyatnya cinta damai.

Namun, seiring waktu berjalan, saya merasakan Indonesia-ku berubah. Dulu kita menuntut demokrasi yang sesungguhnya. Kita menganggap, demokrasi pada saat pemerintahan Orde Baru hanyalah demokrasi semu. Pada saat itu saya tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya terjadi, karena saya masih duduk di bangku SMA. Reformasi pun terjadi. Semua orang bergembira. Aspirasi rakyat didengarkan. Lalu keributan mulai terjadi. Semua golongan menginginkan aspirasinya tercapai. Semua berlindung di bawah payung “demokrasi”. Setiap pemimpin yang memerintah, dihujani kritik dan celaan.

Tindakan anarki pun sering terjadi. Demonstrasi menuntut berbagai hal, banyak di antaranya yang kemudian diikuti dengan tindakan pengrusakan fasilitas umum, melawan aparat dan tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Apakah semua tindakan kekerasan itu dapat menyelesaikan masalah? Tidak hanya itu, banyak sekali kekerasan terjadi di sekitar kita, bahkan di dalam rumah tangga. Mengerikan.

Continue reading

May 13, 2008 Posted by | Opini | 10 Comments

Di Balik Kata “CINA”

Apa sebenarnya arti kata “Cina”? Mengapa orang-orang keturunan Cina di Indonesia merasa keberatan untuk dipanggil “Cina”? Bahkan beberapa tahun yang lalu pernah ada sinetron Indonesia yang berjudul “Jangan Panggil Aku Cina”. Apa arti kata “Cina” sebenarnya dan mengapa kata itu menjadi sangat sulit diterima?

Lalu bagaimana pula dengan kata “Tiongkok”, “Tionghoa” dan “Mandarin” yang sering digunakan untuk menyebut negara, bangsa dan bahasa China? Dari mana asal kata-kata tersebut? Saya mencoba mengumpulkan data-data untuk memberikan informasi mengenai hal itu.

ASAL KATA “CINA”

Sebenarnya nama Cina atau China sendiri sudah dikenal oleh orang Barat sebelum Marco Polo masuk ke Tiongkok (Marco Polo masuk ke Tiongkok pada zaman Dinasti Yuan), dan periode semenjak ditutupnya Jalur Sutera hingga zaman Marco Polo sama sekali tidak ada kontak antara Barat dengan Cina (saat itu pula pedagang-pedagang dari Arab dan Gujarat belum lagi merintis jalur laut yang menghubungkan antara Barat dengan Cina). Kalau kita ingat pula ada salah satu pepatah Arab yang mengatakan: “Uthlubul ‘ilma walaw bish shiin” atau “Tuntutlah Ilmu sampai ke Negeri Cina” (di sini Cina dituliskan dalam bahasa Arab “Shiin”). Katakanlah Islam baru tiba di Arab tahun 600-an Masehi dan masuk ke Cina era Khalifah Utsman bin Affan, yang manapun, nama “Shiin” atau “Cina” berarti sudah dikenal 1200 tahun sebelum Invasi Jepang ke Cina.

(http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/…ina-adakah.htm)

Kata Cina sendiri diperkirakan berasal dari serapan bahasa Barat untuk menyebut “Negara Qin (baca: Cin)”. Pada era Reunifikasi Cina, Negara Qin menyatukan seluruh Cina Daratan dalam satu aturan, satu ukuran, satu negara, satu bahasa, dan satu tulisan, yaitu Aturan Qin, Ukuran Qin, Negara Qin, Bahasa Qin, dan Tulisan Qin. “Tulisan Qin” (The Qin Writing) ini lalu menjadi dasar bagi tulisan Cina hingga sekarang. Besar kemungkinan dari nama tulisan inilah nama “Cina” diserap.

Continue reading

May 8, 2008 Posted by | Budaya Tionghoa | 37 Comments

MONEY

May 6, 2008 Posted by | Mutiara Kata | 9 Comments

Nasib Guru yang Memprihatinkan

Tiga hari yang lalu bangsa kita memperingati “Hari Pendidikan Nasional”. Saya melihat di beberapa berita televisi maupun berita online, peringatan hardiknas diisi dengan beberapa demo yang terjadi di beberapa kota. Isi demo bermacam-macam, diantaranya mengenai Ujian Nasional, menuntut pendidikan murah dan lain sebagainya. Sepertinya masyarakat tidak pernah puas dengan keadaan pendidikan di Indonesia. Sistem pendidikan, biaya, fasilitas sampai tenaga pengajar sering dijadikan kambing hitam dalam kegagalan mencetak generasi muda yang berkualitas di negeri ini.

Salah satu elemen penting dalam dunia pendidikan adalah guru. Tanpa guru, kegiatan belajar mengajar tidak dapat terlaksana. Lalu bagaimana dengan nasib para guru saat ini? Adakah yang masih peduli dengan mereka?

Coba saja tanyakan kepada para pelajar saat ini, siapakah di antara mereka yang serius bercita-cita menjadi guru? Pasti sedikit sekali jumlahnya. Mayoritas pelajar memiliki cita-cita menjadi dokter, pilot, sekretaris, pengacara dan macam-macam profesi lainnya yang mereka anggap sukses. Guru dalam benak mereka adalah orang-orang sederhana yang menjalani profesi untuk mencari sesuap nasi demi menghidupi keluarganya. Sedemikian buruknya kah nasib guru Indonesia?

Tadi malam ketika saya sedang menyaksikan acara Idola Cilik di RCTI, saya terenyuh mendengar para peserta menyanyikan lagu “Kepada Guru”. Liriknya seperti ini:

“Kita jadi bisa, menulis dan membaca, karena siapa? Kita jadi tahu beraneka bidang ilmu, karena siapa? Kita bisa pintar dibimbing pak Guru, kita bisa pandai dibimbing bu Guru…, Guru bak pelita, penerang dalam gulita, jasamu tiada tara…”

Continue reading

May 5, 2008 Posted by | Opini | 7 Comments

CHEONGSAM

Cheongsam diadaptasi dari kata changshan yang berarti baju panjang. Menggambarkan baju satu potong pas di badan yang dikenakan oleh perempuan China. Pada beberapa daerah lain juga dikenal dengan sebutan Qipao. Jika melihat perkembangannya, Cheongsam merupakan simbol dari kebangkitan wanita modern di negeri China saat itu. Cheongsam mulai dikenakan pada awal abad 20 oleh para wanita Shanghai. Kebanyakan pemakainya adalah guru dan pelajar. Cheongsam pada masa itu merupakan busana yang nyaman, praktis, dan ekonomis, sebagai hasil modifikasi dari busana awal mereka yang berupa jubah lebar dan berlapis-lapis.

Dari tampilannya potongan Cheongsam memang sederhana. Tidak memiliki banyak aksesoris, seperti sabuk, atau selendang. Jadi pada masa itu, mereka yang memiliki Cheongsam, dengan warna dan bordir yang beraneka ragam dianggap sebagai wanita berada. Semakin banyak bordiran pada Cheongsam, semakin tinggi kelas ekonomi sang pemakai. Pada tahun-tahun tersebut, Cheongsam menjadi busana wajib bagi wanita yang ingin digolongkan sebagai kalangan wanita menengah ke atas di Shanghai kala itu.

Kini Cheongsam tidak hanya familiar dikalangan etnis Tionghoa saja. Beberapa model potongan cheongsam perlahan diadopsi dan dipadukan dengan busana gaya apa saja. Hasil adoposi Cheongsam ini akhirnya menghasilkan berbagai desain busana yang elegan dan menarik.

Continue reading

May 5, 2008 Posted by | Budaya Tionghoa | Leave a comment