Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Kebangkitan Nasional

Sebentar lagi kita akan memperingati HARKITNAS (Hari Kebangkitan Nasional) yang ke-100. Apakah bangsa kita sudah benar-benar bangkit? Bangkit macam apa yang diinginkan bangsa ini?

Pada saat saya sekolah dulu, saya ingat ada pelajaran yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia terkenal baik dan ramah. Hal itu membuat saya bangga. Ketika menonton film barat dan melihat adegan kekerasan, dalam hati saya mengatakan, Indonesia tidak seperti itu. Indonesia adalah negara yang aman dan tenteram dan rakyatnya cinta damai.

Namun, seiring waktu berjalan, saya merasakan Indonesia-ku berubah. Dulu kita menuntut demokrasi yang sesungguhnya. Kita menganggap, demokrasi pada saat pemerintahan Orde Baru hanyalah demokrasi semu. Pada saat itu saya tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya terjadi, karena saya masih duduk di bangku SMA. Reformasi pun terjadi. Semua orang bergembira. Aspirasi rakyat didengarkan. Lalu keributan mulai terjadi. Semua golongan menginginkan aspirasinya tercapai. Semua berlindung di bawah payung “demokrasi”. Setiap pemimpin yang memerintah, dihujani kritik dan celaan.

Tindakan anarki pun sering terjadi. Demonstrasi menuntut berbagai hal, banyak di antaranya yang kemudian diikuti dengan tindakan pengrusakan fasilitas umum, melawan aparat dan tindakan-tindakan kekerasan lainnya. Apakah semua tindakan kekerasan itu dapat menyelesaikan masalah? Tidak hanya itu, banyak sekali kekerasan terjadi di sekitar kita, bahkan di dalam rumah tangga. Mengerikan.

Demokrasi macam apa sebenarnya yang diinginkan? Semua orang memiliki keinginan masing-masing. Jangankan dalam suatu negara, dalam keluarga kecil saja sering terjadi beda pendapat. Apalagi negara kita, dua ratus lima puluh juta orang, memiliki dua ratus lima puluh juta keinginan. Apakah semua harus dipenuhi? Apakah semua bisa menuntut demokrasi?

Sebagai warga negara, kita memang berhak untuk hidup layak, namun kita juga harus melaksanakan kewajiban kita. Janganlah kita terus menerus menuntut hak dan melalaikan kewajiban. Pemimpin kita sudah berusaha melakukan yang terbaik dalam memperbaiki negara ini yang memang sudah dalam kondisi carut marut. Janganlah kita saling menjatuhkan dan bertindak mementingkan golongan tertentu. Mengkritik seseorang itu mudah, namun jika kita berada di posisi tesebut, apakah kita bisa lebih baik? Belum tentu.

Sayangnya di saat negara kita ingin bangkit, ada saja orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri dengan melakukan tindakan korupsi untuk memperkaya diri sendiri dan golongan. Bagaimana bangsa kita bisa mempercayakan nasib mereka pada orang-orang itu? Jika kepercayaan sudah tidak ada, maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang mudah curiga dan saling menyerang satu sama lain.

Membangun negara itu bukan hal mudah. Kita tidak bisa memperbaiki negara dalam waktu satu atau dua tahun saja. Perlu waktu bertahun-tahun, sedikit demi sedikit, dan bahu membahu oleh semua rakyat Indonesia. Ada baiknya kita memulai dengan memperbaiki diri kita sendiri. Contoh kecil saja, mengenai banjir. Jangan hanya menyalahkan pemerintah terhadap bencana ini. Sebaik apapun tindakan pemerintah untuk mencegah atau menangani banjir, apabila tidak diimbangi dengan bantuan rakyatnya, niscaya tidak akan berhasil. Bantuan yang bisa kita berikan sebagai rakyat adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan, memelihara kebersihan sungai, dan lain sebagainya. Semua itu harus dimulai. Jika bukan kita bangsa Indonesia, lalu siapa lagi? Mari kita bersama-sama membangun Indonesia untuk mewujudkan impian-impian kita menjadi bangsa yang adil dan makmur. Bangkitlah Indonesia-ku.

May 13, 2008 - Posted by | Opini

10 Comments »

  1. siapa duluan nih yang bangkit?

    Comment by ompiq | May 13, 2008 | Reply

  2. Hi mas ompiq,
    Salam kenal dan terima kasih commentnya ya..
    Kita semua dong yang harus bangkit. Ya pemimpin ya rakyatnya, bersama-sama mewujudkan impian kita.
    Maju terus Indonesia..!
    Btw, saya barusan lihat-lihat blog mas ompiq, bagus ya. Kreatif dan lucu, nanti saya lihat-lihat lagi ah..🙂

    Comment by Retno Damayanthi | May 13, 2008 | Reply

  3. Dalam demokrasi kadang kita mengkritik, itu sah dan perlu. Seperti obat, untuk diagnosa yang tepat dan dengan takaran yang pas kritik akan menyembuhkan, namun kalau diagnosanya ngawur dan dosisnya kelebihan kritik malah bisa jadi racun. Dalam demokrasi mengkritik adalah pelajaran pertama, biasanya paling digemari oleh para demokrat pemula,terutama mengkritik lawan politik. Banyak sekali bahan ajaran dalam demokrasi yang perlu dipahami tetapi kurang menarik bagi para pemula,antara lain pelajaran mendukung pihak lain, terutama mendukung lawan politik yang sedang berjuang untuk kepentingan yang lebih besar daripada sekedar kepentingan kelompok dan golongan. Seperti dalam kondisi sekarang ini, pemerintah kita lebih memerlukan dukungan daripada kritik, untuk menyelamatkan negara dan bangsa ini dari krisis ! Ayo kita berhenti dulu mengkritik pemerintah, mari kita dukung kebijakan dan upaya-upaya pemerintah! Thx.

    Comment by Anton H Biantoro | May 14, 2008 | Reply

  4. Setuju Ka Badan,
    Sebaik apapun usaha pemerintah, tanpa dukungan rakyatnya maka niscaya tidak akan berhasil. Perlu dukungan semua pihak, bersama-sama membangun Indonesia.

    Comment by Retno Damayanthi | May 14, 2008 | Reply

  5. kayaknya Indonesia tercinta ga bakalan bangkit bangkit deh…yang ada malah makin terpuruk… Heboh2 UN adalah salah satu potret kegagalan negeri ini membangun fondasi pendidikan. Itu blm selesai, kenaikan BBM makin bikin rakyat pusing nentuin prioritas. Alih alih mikirin pendidikan, perut keroncongan mana bisa mikiiiirrrr????

    Comment by Nilla | May 20, 2008 | Reply

  6. Loh kok pesimis sih?

    masalah kenaikan harga BBM, memang akan membuat hidup rakyat semakin sulit, tapi mbak Nilla perhatiin deh, kalo sebenarnya bukan kenaikan BBM-nya yang jadi masalah, tapi kenaikan semua harga barang, baik pokok, sekunder dan tertier.

    Yang perlu dipertanyakan, kenapa sih semua harga barang latah ikut naik? naiknya pun nggak tanggung2. BBM cuma naik 10% misalnya, tapi harga kebutuhan pokok dan angkutan umum naiknya bisa sampai 50% atau bahkan 2x lipat. Itulah sebenarnya yang membebani rakyat. Kalau semua harga kebutuhan terkena imbas kenaikan BBM, harusnya sewajarnya aja. Yang lebih aneh lagi, BBM belum naik, tapi harga kebutuhan pokok udah pada naik duluan. Nggak masuk akal kan?

    Hehe malah jadi berkepanjangan tanggapannya. Semoga mbak Nilla bisa mengerti sudut pandang saya ya..
    Terima kasih

    Comment by Retno Damayanthi | May 20, 2008 | Reply

  7. Wahai bangsa Indonesia,
    bagaimana bisa bangkit kalau kita dilelo-lelo oleh lagu-lagu dari album bapak Presiden Bambang Yudho?

    Comment by Tante Tut | May 21, 2008 | Reply

  8. Dear tante,
    musik kan bisa meredakan ketegangan saraf2 yang kaku akibat stress. Apalagi kalau lagi patah hati, trus dengerin musik, lagunya Ronan Keating (hehe..my fav singer) bisa sedikit terobati..
    Anyway, for me, Presiden SBY is the best President Republic of Indonesia since I was born. hehe…

    Comment by Retno Damayanthi | May 22, 2008 | Reply

  9. liat gambarnya jadi inget buku PSPB waktu zaman sd..hehehe
    dapet gambarnya dari mana no?? kalow loe bikin tulisan, yg banyak gambarnya yah biar gw comment-in ^v^
    u know lah, gw ga suka baca kalow ga ada gambarnya, harus di “rangsang” dulu neh

    anyway, kalow ngomongin bangsa ini…gimana ya? kayanya cape aja. maonya siy berubah menjadi lebih baik, tapi koq orang2nya kynya pada cuek2 aja tuh, mementingkan diri sendiri aja, ga peduli keadaan orang laen, egois deh. yg ada di pikiran gw, kebanyakan orang indonesia mikirnya selama bukan gw yg susah, ya sebodo amat, ga masalah. mao orang laen susah juga bodo amat, yg penting bukan gw.

    ya mudah2an aja qta semua, termasuk elo n gw, bisa mao lebih mengerti kesusahan yg dirasakan rakyat indonesia lainnya yg ga seberuntung kita. tapi bukan cuma mengerti aja ya, harus ada tindakan yg kita lakukan n menolong mereka tux seenggak2nya mengurangi sedikiiiiittttt aja beban hidup mereka.

    Comment by vieni | May 27, 2008 | Reply

  10. Makasih ya vi commentnya..
    Wah kita sama donk gak suka baca ya..
    setuju vi..kita harus bersama2 bantu sekitar kita, jangan maunya enak sendiri ya..hehe..
    Bingung nih mau ngomong apa lagi, abisnya kata-kata lo udah hebat banget kaya’nya cocok deh vi jadi guru PSPB. hiihi😉

    Comment by Retno Damayanthi | May 27, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: