Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Mengapa Menulis Itu Sulit?

Saya adalah orang baru dalam dunia per-blog-an. Saya tidak terbiasa dengan tulis menulis atau membuat karangan. Biasanya saya menulis hanya jika ada tugas. Itupun tidak banyak. Tugas mengarang dalam pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Sunda (karena tinggal di Depok, maka saya mendapat pelajaran bahasa Sunda), bahasa Inggris ataupun bahasa Mandarin, seringkali temanya ditentukan, sehingga saya terbiasa menulis karena “disuruh”.

Sebenarnya waktu SD saya pernah menulis sebuah cerita panjang, menggambarkan kehidupan idaman dalam imajinasi saya. Saya tulis setiap hari dengan tulisan tangan, karena pada saat itu belum punya komputer dan malas menggunakan mesin ketik. Panjang cerita itu kira-kira 32 halaman (bolak balik), tepat menghabiskan jumlah kertas dalam sebuah buku tulis. Sayangnya buku itu sekarang hilang. Padahal saya pernah menyimpannya sampai beberapa tahun. Terakhir saya membacanya, saya tertawa sendiri, karena bahasa dan cerita yang saya tulis sangat sangat norak dan tidak realistis.

Kalau saya ingat-ingat, pelajaran menulis atau mengarang di tingkat sekolah dasar dan menengah sangatlah kurang. Sebenarnya kunci utama untuk bisa menulis adalah membaca. Semakin banyak kita membaca maka akan semakin banyak juga pengetahuan yang kita dapat. Namun ketika sekolah dulu, saya hanya dihadapkan dengan buku-buku pelajaran dan buku-buku teori yang harus dihafal. Tidak ada kesempatan untuk membaca cerita-cerita pendek ataupun karya-karya sastra. Beruntung pada waktu SD dulu, orangtua saya berlangganan majalah “Bobo” sehingga membantu menciptakan imajinasi-imajinasi mengenai banyak hal dalam pikiran saya.

Ketika SMP dan SMU, saya tidak lagi berlangganan majalah. Saya juga tidak punya waktu membaca buku-buku di luar buku pelajaran. Kadang-kadang membaca majalah remaja untuk refreshing, tapi bukan untuk mengasah otak untuk menulis. Jumlah buku pelajaran masa sekolah menengah sangatlah banyak dan kami diharuskan untuk menghafalnya. Sampai-sampai saya muak melihat buku-buku itu (untunglah sekarang saya sudah terbebas dari beban itu..hehe..).

Kembali ke masalah menulis. Tidak adanya kesempatan untuk membaca buku-buku di luar buku pelajaran dan rasa muak terhadap buku-buku pelajaran itu membuat saya benci membaca buku. Terutama buku yang tebal. Baru membaca beberapa halaman saja sudah membuat saya pusing. Saya lebih suka menerima berita secara pasif seperti menonton televisi daripada membaca buku atau koran. Hal ini telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun ketika saya menjadi mahasiswa jurusan bahasa, saya dihadapkan dengan tugas-tugas menulis. Jarangnya membaca buku membuat saya tidak memiliki ide untuk menulis. Sulit sekali.

Kadang kala ingin sekali mengubah kebiasaan buruk ini, tapi tetap saja sulit untuk menimbulkan minat baca. Seorang teman kerja saya, Tuti, sangat gemar membaca. Koleksi bukunya banyak sekali. Tuti sering menawarkan saya untuk membaca novel-novel bagus miliknya. Kadang-kadang saya tertarik dengan referensinya dan membaca novel-novel itu walaupun butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan membaca satu novel. Saya seringkali kagum melihat Tuti yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca. Luar biasa.

Internet sangat membantu saya dalam mencari informasi. Saya tidak harus mencari di koran atau buku yang tebal untuk mendapatkan apa yang saya cari. Internet memberikan sumbangan besar dalam pengisian otak saya akan informasi.

Pola belajar pada usia anak sekolah sangat mempengaruhi kebiasaan seseorang ketika dewasa. Hal ini terjadi pada saya. Sehingga ingin rasanya saya menyalahkan kurikulum pendidikan sekolah. Mengapa dulu kami tidak diberi kesempatan untuk membaca buku-buku di luar buku pelajaran? Mengapa kami dulu dijejali dengan banyaknya teori-teori dalam buku pelajaran yang harus dihafal? Mengapa dulu kami tidak dibiasakan menulis essay? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan saya mengenai kurikulum pendidikan sekolah.

Taufiq Ismail yang bersama sejumlah sastrawan lainnya merancang program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) dengan sejumlah sekolah di Indonesia mengatakan, pengajaran sastra di SMU sudah lama tergusur oleh pelajaran tata bahasa. Perbandingannya, antara 10-20 persen berbanding 90-80 persen. Kewajiban membaca buku sastra setali tiga uang, terperosok dari 25 buku dalam tiga tahun di masa Algemeene Middelhare School (AMS) Hindia Belanda menjadi 0 buku dalam 3 tahun di SMU. Demikian pula kewajiban mengarang dari 36 pertemuan setahun di SMU menjadi sekitar enam pertemuan setahun. Dibandingkan SMU di banyak negara, SMU di Indonesia jauh tertinggal dalam hal kewajiban membaca buku, bimbingan menulis, dan pengajaran sastra.

SMU di Amerika, misalnya, siswa diwajibkan membaca 32 judul buku. SMU di Belanda dan Prancis masing-masing 30 judul buku, SMU di Swiss dan Jepang masing-masing 15 judul buku. SMU di Indonesia, dari tahun 1943 – 2003 tidak ada atau nol. ”Angka nol buku untuk SMU Indonesia sudah berlaku 60 tahun lamanya, dengan pengecualian sedikit pada beberapa sekolah saja,” katanya.

http://www.ganeca-exact.com/index.php?option=content&task=view&id=46&Itemid=59

Menyesal tidak ada gunanya. Saya hanya berharap bahwa kurikulum di sekolah dasar dan menengah dapat diubah dengan memasukkan pelajaran membuat essay sehingga anak-anak dapat mulai menulis sejak dini. Saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah mencoba memperbaiki diri. Mencoba membaca di waktu senggang. Bisa dimulai dari membaca majalah yang juga berisi pengetahuan, untuk menambah kualitas SDM. Blog ini akan menjadi sarana saya belajar menulis. Semoga suatu saat saya bisa menulis dengan baik.

May 24, 2008 - Posted by | Opini

15 Comments »

  1. Hi Eno,
    I’m very interrested in your article which is related to writing skill. You experienced already at DITC last year, how difficult writing skill is. Under pressure 40 minutes (3-5 brain storm, 30 minutes writing, 3-5 minutes checking) you write in descriptive, argumentative, or process/procedur essays with varieties of topic. We’re very busy here and I particularly work harder than the other, because most of the AAELC students are already in level 7. Some of them are English teachers and have been more than twice at DITC or another country. Even I don’t have any time to develope my blog. How about you and Tuti? Was it the same situation with us? I think it is very tough to be here.
    Thanks.

    Rafiq

    Comment by rafiq | May 25, 2008 | Reply

  2. Hi mas Rafiq,
    firstly I want to say thanks for visiting my blog, especially for the comment.
    Yes Tuti and I also felt a bit inferior at class because the same situation as you, most of our class mates are English teachers and they took MELT before AAELC. Some of them are also already at level 7. This situation made us should study hard to catch up with the lesson.
    We also think that writing is the most difficult skill to improve. Timed Writing every Friday morning became our scariest time of the week, don’t you think so?
    Even up to now, I still face difficulties in writing. Became a student at AAELC really gave me many valuable experiences. We were so lucky could be there.
    So..keep up your spirit high mas Rafiq..🙂

    Comment by Retno Damayanthi | May 25, 2008 | Reply

  3. Good, both of you communicate in English, so I can join your discussion! Viva AAELC! (Mine was in 1998)

    Comment by Anton H Biantoro | May 25, 2008 | Reply

  4. Waduh…. masih belajar menulis aja tulisannya udah mencapai 5500 karakter.
    lagi2 waduh…. komentnya harus pake basa bule? yoo… wiss
    Kalo little2 sih babar blas. Lagi blajar baca. hi..hi..🙂

    salam

    Comment by namakuananda | May 26, 2008 | Reply

  5. Thanks Kabadan,
    let this becomes our opportunity to practice English🙂

    Hi namakuananda,
    terima kasih commentnya..emang masih belajar nulis nih, kebanyakan ya nulisnya?
    makanya kritik dan sarannya ditunggu loh. Kasih comment gak harus pake bahasa Inggris kok, tapi kalo mau ya boleh2 aja, sekalian berlatih bahasa Inggris hehe..🙂

    Comment by Retno Damayanthi | May 26, 2008 | Reply

  6. lao shi,ajari buat blog donk!!!kan non stop learning;-)betul to???

    Comment by SUDARMANTO | May 26, 2008 | Reply

  7. Hi Laoshi, how R U doing?
    Looking great now.

    I’d like 2 join Ur very interesting topic here which is about “Why is hard to make a writing ?”.
    Talking about its difficulties, I think it depends on the aim of our writing. If we write something only to express our feeling, such us writing on our private diary, most people say it’s easy because we don’t have 2 think to much about the rule of language. In this case, the way of writing is the art of self expression, free and broad.
    It’s different if we write 4 academic puspose in which requires the correct language and procedure. We need 2 follow a certain structure. This one that we have 2 study. But it won’t be a big problem as long as we still want 2 do it. Something that we have 2 learn is about the methodes and the flow of the good writing based on the standart academic writing.
    But please remember this idea is only one of lots ideas around us.

    That’s all 4 now, all the best 4 all

    Cheers,

    Dahlan

    Comment by Dahlan | May 26, 2008 | Reply

  8. Anto xs,
    kalau mau belajar buat blog, ke ruangan subpok aja, misalnya pas jam istirahat, saya atau ari laoshi pasti gak keberatan kok. Atau tanya2 sama winner xs yang juga udah jadi blogger. Selamat bergabung di dunia per-blog-an. hehehe..

    Mr.Dahlan,
    thank you very much for your comment. I couldn’t agree anymore, writing is easy if we write about our experiences. But…it becomes so difficult if we have to write something which is unfamiliar for us. For example when we were at DITC we should write about strange topics such as gene therapy, law and order, etc. Moreover, if we want to give a fact or statistic to support our writing, we need to be careful and don’t forget to attach the sources. Another difficulty is sometimes we have so many ideas in our mind but we don’t know how to pour those ideas into a writing paper.
    It’s interesting to discuss about this topic, isn’t it?
    cheers

    Comment by Retno Damayanthi | May 26, 2008 | Reply

  9. saya juga merasakan kalau nulis itu sangat susah padahal di dalam pikiran itu banyak sekali hal yang ingin ditulis tetapi untuk membuatnya menjadi suatu tulisan sampai keluar keringat dingin. Tetapi kenapa saya jadi instruktur bahasa ya…? hehehe…mungkin dengan blog ini saya akan belajar ubtuk menulis apa saja Tq.

    Comment by ophet | May 27, 2008 | Reply

  10. I am passing by your blog to check the progress. Bussy? OK!

    Comment by Anton H Biantoro | May 27, 2008 | Reply

  11. iyo bundo, ayo kito samo-samo belajar menulis di blog kito..hehe..

    Yes Kabadan,
    I’ve been a bit busy nowadays, and again I’m so sorry for being slow to update this blog.

    Comment by Retno Damayanthi | May 27, 2008 | Reply

  12. Menulis itu kebiasaan, juga membaca! Keharusan menulis dengan fakta benar adalah mutlak, lalu menuangkannya dalam kata-kata dan kalimat memang terasa sulit. Menulis adalah seni. Barang siapa menyatakan menulis itu mudah adalah pembual dan pembohong besar (pernah saya baca di buku Prof. Dr. Aris Munandar; Cara menulis laporan (saya agak lupa judulnya); LMK; Duren III). Namun, kita harus berani menulis dan membiasakannya. he he he….

    Comment by Singal | June 1, 2008 | Reply

  13. Setuju Pak Singal,
    menulis dan membaca adalah kebiasaan yang harus dilatih dan dilatih terussss.. makanya saya menggunakan blog ini sebagai sarana belajar menulis. Kalau jelek ya nggak apa-apa, namanya juga baru belajar kan ya pak? hehe..

    Comment by Retno Damayanthi | June 2, 2008 | Reply

  14. Betul sekali, menulis itu susah banget karena kita tidak dibiasakan menulis sedari dini, contohnya menulis diary ttg keseharian kita. Itu langkah awal gemar menulis.

    Tuuh no, dengar apa kata pa Singal, harus rajin baca juga. Ini dikasih buku malah tidur, diajakin ke gramed malah kabur hahahaha bahaya bahayaa

    Comment by yubithea | June 3, 2008 | Reply

  15. Iya deh tuti deh yang gemar membaca..berarti udah jago nulis ya?? ajarin dooonnkkk…
    hehehe..kita jalan-jalan ke mall aja yukss😉

    Comment by Retno Damayanthi | June 4, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: