Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Menikmati Hidup

Seorang teman menceritakan pengalamannya bertugas di hutan daerah terpencil di pulau Halmahera. Di sana hanya terdapat dua gubuk reot yang dihuni enam orang. Lokasinya di tengah hutan, sarana transportasi pun tidak ada. Benar-benar terasing dari dunia luar. Hidup orang-orang miskin itu sangat kekurangan, tetapi mereka terlihat bahagia dan menikmati hidup.

Mungkin di antara kita ada yang tidak pernah atau tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan sehari-hari orang-orang miskin itu. Yang saya maksud di sini adalah orang yang benar-benar miskin, bukan orang yang mengaku-ngaku miskin. Mengingat zaman sekarang banyak orang mengaku menjadi orang miskin. Hehehe..

Saya kemudian teringat dengan beberapa acara Reality Show di mana “Kehidupan Orang Miskin” sebagai center of excellent dari suatu acara. Salah satu program televisi “Jika Aku Menjadi” di Trans TV adalah salah satunya. Program ini merupakan program Reality Show yang menampilkan seorang anak kota yang ingin merasakan beberapa hari hidup bersama dengan orang miskin. Dalam acara ini terlihat banyak kebiasaan orang miskin itu yang tidak pernah dilakukan oleh anak kota tersebut. Kemudian, acara ini pun dilengkapi dengan acara tangis haru.

Acara ini bagus untuk anak-anak kota tersebut dalam belajar menghargai hidup. Di mana tidak semua orang dapat hidup seberuntung mereka. Di sekitar kita masih sangat banyak orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun yang saya khawatirkan adalah, bagaimana dampak acara ini terhadap orang miskin itu?

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Di satu sisi, hal ini bagus untuk memacu diri untuk dapat hidup lebih baik lagi. Namun di sisi lain, apabila perasaan tidak puas ini terlalu banyak dan berlebihan justru dapat mencelakakan diri sendiri. Selalu merasa kurang dan lama kelamaan dapat menimbulkan rasa iri hati.

Kembali ke acara “Jika Aku Menjadi”, ketika si anak kota menangis haru mendengar cerita orang miskin dan kemudian orang miskin itu menangis dan tampak menyesali hidup. Saya jadi berpikir, mereka orang-orang miskin itu yang sebelumnya sudah menyukuri hidup mereka selama ini menjadi menyesali dan menjadi rendah diri? Bukankah menyorot kehidupan mereka dan menampilkannya sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa iba pemirsa dapat membuat mereka merasa betapa tidak beruntungnya mereka? Bagaimana pula apabila keluarga orang susah itu memiliki anak-anak juga? Bukankah dengan melihat penampilan dan gaya hidup si anak kota dapat membuat mereka malu dan rendah diri?

Persepsi setiap orang pastilah berbeda, namun itulah yang saya rasakan terhadap beberapa reality show sejenis yang mengangkat kehidupan orang miskin. Namun semua hal pasti ada manfaatnya. Semoga saja manfaatnya lebih banyak dari pada efek samping yang saya khawatirkan.

Memiliki impian dan harapan memang baik dalam memacu semangat untuk hidup lebih baik. Namun kita juga harus mensyukuri apa yang telah kita miliki dan menikmati hidup kita masing-masing. Percayalah Tuhan telah memberikan yang terbaik untuk hambanya.

September 9, 2008 - Posted by | Opini

15 Comments »

  1. Memang kadang perasaan rakyat kecil tidak terlalu dipikirkan. Hanya peduli rating dan keuntungan yang didapat. Ingat saja bagaimana acara “uang kaget” dulu, di mana kepanikan orang miskin yang berlari kesana kemari dengan kebingungan malah menjadi tontonan. Menyedihkan.

    Comment by Rosalina | September 11, 2008 | Reply

  2. Selamat pagi mbak, kalau kita cermati di berita2 maupun di koran2, memang sekarang banyak orang yang sebenarnya sudah kaya, namun dia perilakunya seperti orang miskin, ini adalah pertanda orang yang tidak mau mensyukuri dan menikmati kehidupan, padahal hidup di dunia ini hanya “seperti singgah minum Kopi di warung he…he…he…,kita harus ingat bahwa hidup yang kekal abadi hanya di akherat, semoga dengan Bulan yang penuh berkah, ampunan ini kita menjadi orang yang bisa mensyukuri hidup, Amin. Selamat meneruskan perjuangan melawan hawa nafsu mbak Enno. tetangga.

    Comment by qolilmuh | September 11, 2008 | Reply

  3. itulah dunia bisnis, bahkan orang miskin dibisniskan, dan orang miskinnya mau lagih, dan orang ngaku miskin sampai orang ga’ akan pernah miskin mau-maunya nontonin orang ngga’ miskin hidup diantara orang miskin.

    .

    .

    Comment by subpokjepang | September 11, 2008 | Reply

  4. yang pasti sekarang acara indonesia kalo mengangkat masalah keluarga pasti disana ada si kaya si miskin dan air mata. kalo mengangkat masalah cinta pasti disana ada si kaya si miskin dan air mata. kalo acara humor pasti garing. kenapa sih orang perfilman tidak ada yang kreatif. tapi untuk suami2 takut istri dan extravagansa sudah baik tapi malah di protes gara2 berbau kekerasan. kenapa sih dengan Indonesia? trus lagi kalo film tangis2an yang keterlaluan tidak pernah ada yang protes. si miskin dipukuli ditendang dan ada percikan darah. di korea selatan kabarnya adegan film atau game anak yang menunjukkan darah atau hanya percikan darah sudah dilarang. Indonesia? apakah ambisinya hanya menggenapi jumlah parpol menjadi 100?

    Comment by winnerdieng | September 11, 2008 | Reply

  5. Selamat pagi mbak, makasih atas kunjungannya,tapi ku berharap ilmunya ngeblok yang bagus ditransfer donk ke tempat tetangga, biar agak bagus gitu lho, mksih.

    Comment by qolilmuh | September 12, 2008 | Reply

  6. Selamat atas prestasi yang dicapai sebagai Blogger Terbaik di lingkungan Badiklat Dephan.
    Hadiah dapat diambil di http://proglap.wordpress.com atau http://cenya95.wordpress.com
    Pengambilan Hadiah sampai akhir September 2008.
    salam

    Comment by proglap | September 12, 2008 | Reply

  7. Mbak Rosalina, setuju.!

    Mas Qolil,
    makasih ya commentnya. Saya sudah kirim comment ke blognya mas Qolil tapi kok belum diapprove yah?

    Mas Zaenal,
    arigatou dan setuju juga..!

    Winner xs,
    memang sekarang semua hanya memikirkan keuntungan sendiri saja nggak peduli dampak2 yang ditimbulkan yah. Parpol jadi 100? wah kasian rakyat Indonesia nanti bingung lagipula pemborosan kertas, nanti seberapa lebar itu kertas pemungutan suara????

    Proglap,
    terima kasih🙂

    Comment by Retno Damayanthi | September 14, 2008 | Reply

  8. salaam, laoshi… benar laoshi, dengan cara mengingat dan merasakan yang dialami orang miskin dapat meningkatkan rasa sukur kita atas ni’mat yang telah diberikan Tuhan kepada kita…contohnya puasa pada bulan ramadhan… betapa haus dan lapar kita rasakan pada siang hari selama satu bulan lamanya, begitu pula yang dirasakan setiap hari oleh orang’s miskin…

    Comment by rahmat iins | September 17, 2008 | Reply

  9. Semoga bermanfaat. kalau bicara keuntungan atau jualan, maka model yang populer saat ini, adalah model keserakahan “never sufficient”, tanpa etika, sehingga apapun dijual dan dimanfaatkan, iya termasuk kemiskinan itu. mungkin kemiskinan itu laku dijual karena kita memang miskin.

    Comment by Singal | September 17, 2008 | Reply

  10. sukron pak iin,
    memang kita harus banyak bersyukur dan menikmati hidup yang telah diberikan Tuhan kepada kita.

    pak Singal,
    mungkin saja ya, sesama orang miskn jangan saling memanfaatkan lah hehehe…terima kasih

    Comment by Retno Damayanthi | September 17, 2008 | Reply

  11. setiap saya membaca posting yang menceritakan kemiskinan
    hati saya selalu bergetar
    karena saya ingat gimana rasa nya kalau kita yang menjadi dia
    dan ingat lah setiap kita pasti punya kesempatan menjadi miskin
    maka marilah kita bersyukur karena kita telah diberikan keberuntungan oleh tuhan
    dan mari lah kita bantu mereka yang masih dalam kekurangan

    Comment by yudhi14 | September 21, 2008 | Reply

  12. salaam… laoshi, bicara soal menikmati hidup atau hidup bahagia (spt 2 judul pada speech contest dari b. mandarain) coba dong dikabarkan kepada kita tentang kebiasaan/cara menikmati hidup/hidup bahagia menurut shaolin di temple’s. it’s salah satu kebudayaan dari mandarin kan? karean saya kagum melihat mereka yg tidak punya harta, tahta dan wanita tetapi bisa mencapai hidup yang tentram/bahagia…
    sebelumnya, Syukron katsir…

    Comment by subpokbarab | September 24, 2008 | Reply

  13. itulah hidup dizaman sekarang, semua alat ukurnya uang. apa pun yang akan mendatangkan uang akan digeluti dan dilakoninya. tidak pernah terpikirkan lagi dampak/akibatnya.
    salam kenal…

    Comment by Suzamar | September 24, 2008 | Reply

  14. Allahu Akbar 3x Walillahhilhamd
    Taqobballahuminna waminkum Taqobbal ya karim.
    Selamat Iedul Fitri 1249 H.
    Mohon maaf lahir dan bathin.
    Semoga sukses

    Comment by cenya95 | September 26, 2008 | Reply

  15. tangan yang memberi lebih baik daripada tangan yang menerima… semoga kita semua diberkatiNya, Aameen =)

    Comment by mia | July 8, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: