Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Sinh dan Batik

Saat ini banyak kita jumpai kain batik yang disulap menjadi berbagai bentuk baju. Mulai dari baju untuk pertemuan resmi sampai baju santai untuk berjalan-jalan. Batik juga tidak lagi identik dengan orang-orang tua yang kuno melainkan sudah merambah ke kalangan kaum muda bahkan anak-anak. Perkembangan ini tentu saja sangat menggembirakan bagi para pengrajin batik karena dengan meluasnya perdagangan batik di dalam negeri dapat membuat bisnis batik maju dan mengangkat perekonomian mereka.

Lao school uniformHal ini membuat saya teringat dengan Negara Laos. Laos, sebuah Negara sederhana di Asia Tenggara. Laos memiliki kain tradisional yang disebut Sinh. Kain ini bermotif hampir sama dengan kain songket di Indonesia. Yang menarik, hampir semua perempuan di sana memakai kain ini untuk ke acara resmi, berjalan-jalan, bekerja atau bahkan ke sekolah. Di Laos, rok seragam anak-anak terbuat dari kain Sinh. Warnanya disesuaikan dengan tingkatannya apakah SD, SMP atau SMA. Pemandangan ini membuat turis segera memahami bahwa kain itu adalah kain tradisional asli Laos dan tertarik untuk menggunakannya selama berada di sana. Dengan harga yang beragam, kain Sinh menjadi barang paling laku di jual di toko-toko tekstil. Bahkan dengan membayar ekstra sekitar150 ribu kip (setara dengan Rp.150.000), kain sinh dapat segera disulap menjadi rok simpel yang dapat langsung dipakai sesuai ukuran kita. Lalu apa hubungannya dengan kain batik?

lao womenMelihat perkembangan kain sinh di Laos yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri membuat saya berpikir bahwa sebenarnya kain batik juga bisa digalakkan menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri.

Bagaimana apabila seragam anak sekolah seperti rok atau celananya dibuat dari kain batik. Pasti akan lebih menarik dibandingkan dengan motif kotak-kotak yang sering dipakai sekolah swasta. Apabila semua seragam sekolah terbuat dari batik pasti penjualan batik akan meningkat pesat. Hal ini juga lambat laun akan menjadi ciri khas bangsa kita dan menarik perhatian turis. Memang saat ini untuk hari-hari tertentu (biasanya hari Jumat), beberapa sekolah telah menerapkan untuk memakai atasan batik untuk siswa-siswanya. Namun dengan motif batik yang berbeda-beda dan hanya dipakai satu kali seminggu kurang menarik perhatian. Dalam hal ini saya memikirkan hal yang mungkin dapat membuat membuat image batik melekat dan identik pada image masyarakat Indonesia. Untuk memulai hal yang baru pasti sulit, tetapi semua hal baru ada baiknya dicoba.

Sayang, saya hanya bisa berhayal dan memiliki ide tanpa bisa berbuat lebih lanjut. Bagaimana menurut anda?

June 21, 2009 - Posted by | Opini

4 Comments »

  1. HHmmm …
    Seragam sekolah … Batik …
    Atasan memang sudah … setiap hari senin …
    Tetapi kalau rok … aku belum pernah lihat …

    Celana panjang batik ??
    hhmmm keknya jangan deh …
    Nanti kayak tukang kerak telor … hehehe
    (maap)

    BTW …
    Nice Photo No …

    Comment by nh18 | July 1, 2009 | Reply

  2. setuju tuh siswa/i nya pakai batik,,,
    usul ke mendiknas saja….

    Comment by taufik rahmat hidayat | July 8, 2009 | Reply

  3. om NH,
    hehehe…maksud sy kalo cewenya pake rok batik trus yg cowo pake kemeja batik tapi semua sekolahan sama jd supaya eye catching gitu loh…

    taufik rahmat hidayat
    gimana usulnya???:mrgreen:

    Comment by Retno Damayanthi | July 8, 2009 | Reply

  4. kayaknya keren tuh kalo sekolah pake baju batik🙂

    Comment by kain songket | July 16, 2010 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: