Retno Damayanthi

…my hope, thoughts, and inspiration.

Mengajar di AKIP

Sebenarnya pengalaman ini sudah terjadi berbulan-bulan yang lalu, pada bulan Juli 2009. Kami sebagai siswa Dasar Instruktur Bahasa Inggris (DIBI) mendapat tugas praktek mengajar bahasa Inggris di AKIP (Akademi Ilmu Permasyarakatan) di daerah Gandul, Depok selama 4 hari.

di perjalanan menuju AKIPPada awalnya kami merasa panik karena tidak dapat membayangkan calon siswa kami yang merupakan taruna dan taruni AKIP. Kami mengajar taruna tingkat 2. Kelas mereka besar, 1 kelas terdiri dari 65 orang. Kemudian khusus untuk pelajaran bahasa Inggris yang akan kami berikan, mereka dibagi menjadi 4 kelas yang berbeda sehingga dalam 1 kelas hanya terdiri dari 16-17 orang saja.

Pada hari pertama saya mengajar, grogi bukan main. Saya mengajar dengan sangat kaku dan cenderung terburu-buru. Ingin rasanya waktu cepat berlalu. Selama mengajar, kami diawasi oleh seorang penilai yang tidak lain adalah guru-guru kami di kursus DIBI, juga disaksikan oleh beberapa teman sekelas. Walaupun kami sudah beberapa kali praktek mengajar teman-teman sendiri di kelas, tetap saja grogi tidak hilang2. Namun ternyata bukan hanya kami yang grogi, para siswa mengaku mereka pun grogi karena baru kali ini berada di kelas kecil, tempat duduk pun diatur seperti letter U sehingga siswa tidak dapat bersembunyi. Selama ini mereka berada di kelas besar berjumlah 65 orang itu dan tak terpisahkan. Sehingga ini merupakan pengalaman baru bagi mereka.

akip kelas APada hari pertama mengajar, siswa2nya pasif sekali. Apabila ditanya, tidak ada yang menjawab. Ketika ditunjuk untuk menjawab, suaranya pelan sekali. Sehingga saya berkali-kali meminta mereka berbicara lebih keras lagi. Mereka juga terkesan malu, takut membuat kesalahan. Padahal dalam belajar bahasa, kunci utamanya adalah berani mencoba dan tidak perlu takut salah karena membuat kesalahan adalah wajar dalam proses belajar.

Akhirnya 4 hari sudah lewat. Di hari terakhir, berat rasanya berpisah dengan para siswa. Mereka juga mengatakan mereka menikmati pelajaran bahasa Inggris dengan intensif seperti ini. Padahal mereka sudah lebih berani dan aktif dalam menjawab pertanyaan. Ketika guru memberi pertanyaan, beberapa dari mereka pun langsung menunjuk tangan untuk menjawab. Praktek mengajar berakhir, kami kembali ke rutinitas sehari-hari namun tidak lupa kami berfoto buat kenang-kenangan sebelum pulang.  Goodbye AKIP, see you next time 🙂

Advertisements

October 10, 2009 Posted by | About English | 8 Comments

Stand on Your Student’s Shoes

Dalam kesempatan ini saya akan berbagi mengenai apa yang saya dapat dalam bulan pertama mengikuti kursus Dasar Instruktur Bahasa Inggris (DIBI). Salah satu hal baru yang saya dapatkan adalah istilah “to be a good teacher you should stand on your student’s shoes”. Apakah arti istilah ini? Berikut ini sekilas penjelasannya.

.
Sebagai guru, kita harus berusaha untuk memikirkan apa yang siswa kita pikirkan dan merasakan apa yang siswa kita rasakan. Apabila kita melakukan ini maka akan tercipta suatu pengertian kita terhadap siswa dan diharapkan kita dapat memberikan materi pelajaran dengan cara yang tepat untuk dapat diterima dengan siswa.

Secara pribadi, dengan menjadi siswa kursus ini membuat saya berpikir menjadi siswa dan merasakan kehidupan menjadi siswa. Saya menjadi tahu kapan saat-saat krisis yaitu ketika para siswa mudah mengantuk dan lelah sehingga menjadi agak sulit menerima pelajaran. Saya menjadi mengerti bahwa terkadang siswa juga memiliki masalah lain yang harus dipikirkan, bisa berkaitan dengan keluarga atau juga tempat kerja. Saya juga menjadi tahu kalau siswa kadang-kadang juga memiliki banyak waktu luang di sore hari (hehee harus tambah kasih PR nih). Semoga pengalaman ini membuat saya bisa memperbaiki kinerja saya sebagai guru dalam memberikan yang terbaik untuk siswa saya.
Apakah anda mempunya tips2 lain?

April 17, 2009 Posted by | About English | 11 Comments

Kursus DIBI

I’m back..! Hehehe senang rasanya bisa kembali mengunjungi blog saya lagi setelah dua bulan rehat dan melihat beberapa comment yang mendukung menanti saya kembali. Terima kasih semuanya…

Pertama-tama saya akan menceritakan apa yang sedang saya kerjakan saat ini. Setelah sibuk mengajar bahasa Mandarin selama hampir dua bulan, saat ini saya menjadi siswa kursus bahasa Inggris yang merupakan salah satu resolusi saya tahun ini. Kursus yang saya ikuti adalah DIBI (Dasar Instruktur Bahasa Inggris). Diharapkan setelah lulus kursus ini saya akan bisa membantu mengajar bahasa Inggris. Kursus ini akan berlangsung selama 24 minggu, sudah berjalan 3 minggu dan akan berakhir bulan Agustus nanti. Selama kursus kami tinggal di asrama namun diperbolehkan pulang di akhir pekan.

DIBI classPada bulan pertama, kami masih dalam tahap “Language Development”. Merupakan penyegaran dan peningkatan kemampuan bahasa Inggris kami sebelum nantinya masuk dalam tahap “Teaching Methodology”. Saya merasa kursus ini sangat bagus, ditangani oleh instruktur-instruktur yang kompeten di bidangnya. Mulai minggu depan kami juga akan melaksanakan MTT (Mobile Teacher Teaching) selama sebulan di mana kami akan ditangani langsung oleh dua orang Native Speaker dari Australia.

Kursus berlangsung 5 hari dalam seminggu. Pada hari Senin, Rabu dan Jumat kursus berlangsung dari pukul 07.00 sampai 14.30, sedangkan hari Selasa dan Kamis berlangsung dari pukul 07.00-16.15. Padat sekali ya? Oleh karena itu saya harus berusaha lebih giat untuk menangkap pelajaran.

Sebelum kursus dimulai saya sangat ketakutan, takut tidak dapat mengikuti pelajaran. Ketakutan saya berangsur hilang setelah merasakan sikap bersahabat dan saling membantu di antara teman-teman sekelas. Suasana belajar menjadi menyenangkan, apalagi para instruktur selalu bersedia membantu. Sekian dulu cerita saya dari kursus yang sedang saya jalani. Semoga saya dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Semangaattt..!

March 22, 2009 Posted by | About English | 16 Comments