Picaulima’s Gathering
Beberapa minggu lalu Windy Picaulima, saudara saya yang saya kenal lewat facebook mencetuskan ide untuk mengadakan pertemuan keluarga besar Picaulima yang ada di facebook. Wah saya pikir pasti seru sekali. Sayangnya karena kesibukan masing2 personel (hihi kayak grup band aja) yang datang cuma sedikit. Saya datang bersama pacar dan kakak saya datang bersama keluarganya. Di sana telah menunggu windy keponakan saya bersama sepupu2nya. Ini pertama kalinya saya bertemu dengan mereka. Berbekal penjelasan dari seorang sepupu kami yang lain, kami yakin kalau kami memang saudara, terlepas dari nama marga kami yang memang sama.
Pertemuan ini berlangsung di Cafe Lokananta di daerah Panglima Polim, Jakarta Selatan. Lokasi yang lumayan sulit, saya sempat nyasar-nyasar sampai satu jam di daerah sana. Bukan enno namanya kalo nggak nyasar hehee…
Acara diisi dengan saling mengobrol dan tukar cerita tentang diri dan keluarga masing-masing. Menarik sekali. Yang lebih lucu lagi, saya dan kakak saya ternyata kalau diurut silsilah adalah tante dari mereka semua. Haduh padahal mereka lebih tua dari saya, jadi agak aneh kalo dipanggil tante, sehingga saya minta dipanggil Enno saja, saya kan masih imut-imut hehhee.. Eh tapi bener loh, di sana saya merasa imut-imut soalnya saudara-saudara saya itu besar-besar.
Acara berlangsung sampai jam 9.15 namun saya dan kakak saya mendahului pulang duluan karena senin harus kembali bekerja. Pertemuan yang mengesankan, awal yang baik untuk menjalin silaturahmi dengan saudara-saudara. Kami merencanakan untuk mengadakan pertemuan lagi kapan-kapan. Hayu aja, siapa takut…
Punya Pacar ;)
Pertengahan tahun lalu tepatnya tanggal 29 Agustus 2009 saya resmi punya pacar…yeaahh resolusi 2009 tercapai juga hehhee..
Saya bertemu dia di kantor saya waktu kami sedang sama-sama menempuh pendidikan bahasa Inggris. Berawal dari cinta lokasi, berlanjut sampai sekarang. Menurut saya hubungan kami agak menarik. Kami berasal dari latar belakang dan latar budaya yang berbeda. Saya yang berasal dari keluarga Jawa-Ambon dengan dia yang keturunan China Lampung. Benturan kadang terjadi namun tidak terlalu besar karena kami memiliki toleransi dan tentu saja cinta yang besar.
Inikah lelaki yang diramalkan di kelenteng Sam Poo Kong tahun lalu? Let’s see…. Semoga hubungan kami awet ya.. Saya berharap kalau kami jodoh, maka lancarkanlah hubungan ini. Kalau bukan jodoh, yaa jadikanlah jodoh hehee….
Berita Sedih
Empat bulan lau tepatnya tanggal 22 Februari 2010 lalu kakak ipar saya Nur Adkha Setiawan atau yang biasa saya panggil mas Nawan meninggal dunia secara mendadak dalam usia 35 tahun meninggalkan seorang istri (kakak saya) dan dua orang anak perempuan Andien (7 tahun) dan Alya (5 tahun). Kami sekeluarga terutama kakak saya sangatlah shock dan merasa kehilangan.
Menjadi orang tua tunggal sangatlah sulit apalagi kakak saya telah resign dari kantor tempatnya bekerja 2 tahun yang lalu atas permintaan suaminya. Saat ini dia sedang sibuk mencari kerja dan memikirkan masa depan anak-anaknya yang masih sangat panjang. Semoga kakak saya bisa bangkit dan memulai lagi hidupnya.
Sampai saat ini rasanya masih tidak percaya kalau mas Nawan telah tiada. Masih teringat jelas gurauannya, wajahnya yang selalu ceria, dan suara khas nya yang medok karena berasal dari Malang, Jawa Timur. Tidak pernah lupa juga, almarhum yang selalu mengajari saya menyetir mobil, yang dengan sabar mendampingi saya keliling-keliling kota dengan tangan siap menarik rem tangan berjaga-jaga kalau saja saya telat menginjak rem. Begitu banyak kenangan indah bersamanya…
Selamat jalan mas Nawan, semoga arwahmu tenang di sana bersama-Nya. Amin.
Mengajar di AKIP
Sebenarnya pengalaman ini sudah terjadi berbulan-bulan yang lalu, pada bulan Juli 2009. Kami sebagai siswa Dasar Instruktur Bahasa Inggris (DIBI) mendapat tugas praktek mengajar bahasa Inggris di AKIP (Akademi Ilmu Permasyarakatan) di daerah Gandul, Depok selama 4 hari.
Pada awalnya kami merasa panik karena tidak dapat membayangkan calon siswa kami yang merupakan taruna dan taruni AKIP. Kami mengajar taruna tingkat 2. Kelas mereka besar, 1 kelas terdiri dari 65 orang. Kemudian khusus untuk pelajaran bahasa Inggris yang akan kami berikan, mereka dibagi menjadi 4 kelas yang berbeda sehingga dalam 1 kelas hanya terdiri dari 16-17 orang saja.
Pada hari pertama saya mengajar, grogi bukan main. Saya mengajar dengan sangat kaku dan cenderung terburu-buru. Ingin rasanya waktu cepat berlalu. Selama mengajar, kami diawasi oleh seorang penilai yang tidak lain adalah guru-guru kami di kursus DIBI, juga disaksikan oleh beberapa teman sekelas. Walaupun kami sudah beberapa kali praktek mengajar teman-teman sendiri di kelas, tetap saja grogi tidak hilang2. Namun ternyata bukan hanya kami yang grogi, para siswa mengaku mereka pun grogi karena baru kali ini berada di kelas kecil, tempat duduk pun diatur seperti letter U sehingga siswa tidak dapat bersembunyi. Selama ini mereka berada di kelas besar berjumlah 65 orang itu dan tak terpisahkan. Sehingga ini merupakan pengalaman baru bagi mereka.
Pada hari pertama mengajar, siswa2nya pasif sekali. Apabila ditanya, tidak ada yang menjawab. Ketika ditunjuk untuk menjawab, suaranya pelan sekali. Sehingga saya berkali-kali meminta mereka berbicara lebih keras lagi. Mereka juga terkesan malu, takut membuat kesalahan. Padahal dalam belajar bahasa, kunci utamanya adalah berani mencoba dan tidak perlu takut salah karena membuat kesalahan adalah wajar dalam proses belajar.
Akhirnya 4 hari sudah lewat. Di hari terakhir, berat rasanya berpisah dengan para siswa. Mereka juga mengatakan mereka menikmati pelajaran bahasa Inggris dengan intensif seperti ini. Padahal mereka sudah lebih berani dan aktif dalam menjawab pertanyaan. Ketika guru memberi pertanyaan, beberapa dari mereka pun langsung menunjuk tangan untuk menjawab. Praktek mengajar berakhir, kami kembali ke rutinitas sehari-hari namun tidak lupa kami berfoto buat kenang-kenangan sebelum pulang. Goodbye AKIP, see you next time
Sehari Semalam di Semarang
Beberapa waktu yang lalu teman sekelas kursus yang sedang saya ikuti, Lettu Rendi, hendak menikah. Menikah di Semarang, hari sabtu malam. Kami beberapa teman sekelas menghadiri pernikahan tersebut. Karena tidak boleh ijin selama kursus maka kami berangkat Jumat malam dan berangkat kembali dari Semarang pada hari Minggu pagi. Di sini saya sertakan foto2nya…hehe (narsis-mode-on). Yang manakah saya? Yang pake baju merah dong
Berhubung keuangan kami tipis (maklumlah PNS hehe) kami naik kereta bisnis Senja Semarang. Berangkat Jumat malam sekitar pukul 7 (ga pasti soalnya ngaret), sampai di Semarang hari Sabtu pagi sekitar pukul 3.30. Kami dijemput oleh Rendi, calon pengantin pria (mengharukan ya) hehehe… Kami kemudian diantar ke penginapan yang sudah disiapkan oleh Rendi.
Sabtu pagi kami memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan. Pertama-tama sarapan di lesehan pinggir jalan Simpang Lima. Kemudian ke Kelenteng Sam Poo Kong yang merupakan kunjungan pertama saya ke tempat ini. Lumayan lah bisa sedikit menghibur saya akan mimpi saya ke Cina yang belum kesampaian. Hehehee…. Tidak lupa saya minta diramal di sana. Tentang apa? Tentu saja tentang jodoh hehe…katanya…jodoh saya sudah dekat..o ow siapakah itu???
Dari Kelenteng kami menuju Lawang Sewu. Ditemani seorang guide kami berjalan berkeliling bangunan. Bangunan kuno yang tidak terawat dan terlihat cenderung angker. Lihat-lihat, foto-foto, tidak lupa membeli souvenir berupa kaos bertuliskan “Lawang Sewu”.
Sinh dan Batik
Saat ini banyak kita jumpai kain batik yang disulap menjadi berbagai bentuk baju. Mulai dari baju untuk pertemuan resmi sampai baju santai untuk berjalan-jalan. Batik juga tidak lagi identik dengan orang-orang tua yang kuno melainkan sudah merambah ke kalangan kaum muda bahkan anak-anak. Perkembangan ini tentu saja sangat menggembirakan bagi para pengrajin batik karena dengan meluasnya perdagangan batik di dalam negeri dapat membuat bisnis batik maju dan mengangkat perekonomian mereka.
Hal ini membuat saya teringat dengan Negara Laos. Laos, sebuah Negara sederhana di Asia Tenggara. Laos memiliki kain tradisional yang disebut Sinh. Kain ini bermotif hampir sama dengan kain songket di Indonesia. Yang menarik, hampir semua perempuan di sana memakai kain ini untuk ke acara resmi, berjalan-jalan, bekerja atau bahkan ke sekolah. Di Laos, rok seragam anak-anak terbuat dari kain Sinh. Warnanya disesuaikan dengan tingkatannya apakah SD, SMP atau SMA. Pemandangan ini membuat turis segera memahami bahwa kain itu adalah kain tradisional asli Laos dan tertarik untuk menggunakannya selama berada di sana. Dengan harga yang beragam, kain Sinh menjadi barang paling laku di jual di toko-toko tekstil. Bahkan dengan membayar ekstra sekitar150 ribu kip (setara dengan Rp.150.000), kain sinh dapat segera disulap menjadi rok simpel yang dapat langsung dipakai sesuai ukuran kita. Lalu apa hubungannya dengan kain batik?
Melihat perkembangan kain sinh di Laos yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri membuat saya berpikir bahwa sebenarnya kain batik juga bisa digalakkan menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri.
Bagaimana apabila seragam anak sekolah seperti rok atau celananya dibuat dari kain batik. Pasti akan lebih menarik dibandingkan dengan motif kotak-kotak yang sering dipakai sekolah swasta. Apabila semua seragam sekolah terbuat dari batik pasti penjualan batik akan meningkat pesat. Hal ini juga lambat laun akan menjadi ciri khas bangsa kita dan menarik perhatian turis. Memang saat ini untuk hari-hari tertentu (biasanya hari Jumat), beberapa sekolah telah menerapkan untuk memakai atasan batik untuk siswa-siswanya. Namun dengan motif batik yang berbeda-beda dan hanya dipakai satu kali seminggu kurang menarik perhatian. Dalam hal ini saya memikirkan hal yang mungkin dapat membuat membuat image batik melekat dan identik pada image masyarakat Indonesia. Untuk memulai hal yang baru pasti sulit, tetapi semua hal baru ada baiknya dicoba.
Sayang, saya hanya bisa berhayal dan memiliki ide tanpa bisa berbuat lebih lanjut. Bagaimana menurut anda?
Stand on Your Student’s Shoes
Dalam kesempatan ini saya akan berbagi mengenai apa yang saya dapat dalam bulan pertama mengikuti kursus Dasar Instruktur Bahasa Inggris (DIBI). Salah satu hal baru yang saya dapatkan adalah istilah “to be a good teacher you should stand on your student’s shoes”. Apakah arti istilah ini? Berikut ini sekilas penjelasannya.
.
Sebagai guru, kita harus berusaha untuk memikirkan apa yang siswa kita pikirkan dan merasakan apa yang siswa kita rasakan. Apabila kita melakukan ini maka akan tercipta suatu pengertian kita terhadap siswa dan diharapkan kita dapat memberikan materi pelajaran dengan cara yang tepat untuk dapat diterima dengan siswa.
Secara pribadi, dengan menjadi siswa kursus ini membuat saya berpikir menjadi siswa dan merasakan kehidupan menjadi siswa. Saya menjadi tahu kapan saat-saat krisis yaitu ketika para siswa mudah mengantuk dan lelah sehingga menjadi agak sulit menerima pelajaran. Saya menjadi mengerti bahwa terkadang siswa juga memiliki masalah lain yang harus dipikirkan, bisa berkaitan dengan keluarga atau juga tempat kerja. Saya juga menjadi tahu kalau siswa kadang-kadang juga memiliki banyak waktu luang di sore hari (hehee harus tambah kasih PR nih). Semoga pengalaman ini membuat saya bisa memperbaiki kinerja saya sebagai guru dalam memberikan yang terbaik untuk siswa saya.
Apakah anda mempunya tips2 lain?
Kursus DIBI
I’m back..! Hehehe senang rasanya bisa kembali mengunjungi blog saya lagi setelah dua bulan rehat dan melihat beberapa comment yang mendukung menanti saya kembali. Terima kasih semuanya…
Pertama-tama saya akan menceritakan apa yang sedang saya kerjakan saat ini. Setelah sibuk mengajar bahasa Mandarin selama hampir dua bulan, saat ini saya menjadi siswa kursus bahasa Inggris yang merupakan salah satu resolusi saya tahun ini. Kursus yang saya ikuti adalah DIBI (Dasar Instruktur Bahasa Inggris). Diharapkan setelah lulus kursus ini saya akan bisa membantu mengajar bahasa Inggris. Kursus ini akan berlangsung selama 24 minggu, sudah berjalan 3 minggu dan akan berakhir bulan Agustus nanti. Selama kursus kami tinggal di asrama namun diperbolehkan pulang di akhir pekan.
Pada bulan pertama, kami masih dalam tahap “Language Development”. Merupakan penyegaran dan peningkatan kemampuan bahasa Inggris kami sebelum nantinya masuk dalam tahap “Teaching Methodology”. Saya merasa kursus ini sangat bagus, ditangani oleh instruktur-instruktur yang kompeten di bidangnya. Mulai minggu depan kami juga akan melaksanakan MTT (Mobile Teacher Teaching) selama sebulan di mana kami akan ditangani langsung oleh dua orang Native Speaker dari Australia.
Kursus berlangsung 5 hari dalam seminggu. Pada hari Senin, Rabu dan Jumat kursus berlangsung dari pukul 07.00 sampai 14.30, sedangkan hari Selasa dan Kamis berlangsung dari pukul 07.00-16.15. Padat sekali ya? Oleh karena itu saya harus berusaha lebih giat untuk menangkap pelajaran.
Sebelum kursus dimulai saya sangat ketakutan, takut tidak dapat mengikuti pelajaran. Ketakutan saya berangsur hilang setelah merasakan sikap bersahabat dan saling membantu di antara teman-teman sekelas. Suasana belajar menjadi menyenangkan, apalagi para instruktur selalu bersedia membantu. Sekian dulu cerita saya dari kursus yang sedang saya jalani. Semoga saya dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Semangaattt..!
Breaking News
Teman-teman dan pembaca sekalian, berhubung kegiatan saya di kantor sedang teramat sangat sibuk maka saya tidak dapat menangani blog untuk sementara waktu. Saya memutuskan untuk rehat sebentar dari dunia blog dan berkonsentrasi penuh dengan kewajiban saya di kantor sebagai seorang abdi bangsa dan abdi masyarakat hehehe
Saya akan segera kembali jika ada kesempatan. Doakan saya bisa segera meng-update blog lagi ya…
Terima kasih dan sampai jumpa.
Salam,
Enno



















